Pages

Kamis, 24 September 2015

Sunyaruri (Bagian 2)

1, 2, 3….10 detik, gadis itu masih berusaha untuk menegakkan posisi berdirinya, lantai tempat ini licin, selalu licin, selalu dibersihkan sebelum dibuka dan ketika tutup. “Brukk..” dia terjatuh lagi. Tetap saja tidak ada manusia disini yang perduli, sebagian mungkin malah tertawa dalam pikirannya masing-masing. Gadis itupun tetap keukeuh tidak juga mau meminta pertolongan. Andai saja ia mau membuka mulutnya, mungkin, mungkin saja aku akan maju menolongnya setelah berpikir dulu sebanyak 1000 kali. 1, 2, 3…10 detik lagi berlalu, dia masih terduduk dan berusaha berdiri dengan bertumpu pada tongkatnya, malang sekali. “Ayo berdiri” entah setan datang darimana, kaki ini bergerak sendiri, seperti pahlawan dalam dongeng yang tiba-tiba datang menolong sang putri. “Eehh..terima kasih” seperti kaget gadis itu karna tidak menyangka di dalam tempat yang penuh dengan manusia tapi tidak seperti manusia ini ternyata masih ada manusia. “Sama-sama” kataku singkat, hampir tanpa ekspresi. “Terima kasih sudah ditolong, aku Nessa” katanya sambil tersenyum. Saat tersenyum dia benar-benar manis, perasaan deg-degan seperti ini entah kapan terakhir pernah kurasakan. “E…ee..Edric” sial, kenapa juga jadi gugup seperti ini, umpatku dalam hati. “Kenapa?” setan darimana lagi yang akhirnya sanggup memaksaku untuk bicara, membuka topik. “Kenapa? Maksudnya? Dia bingung. Aku juga bingung. “Maksud, maksudku, kenapa tadi tidak berusaha untuk minta tolong, disini kan banyak orang, kalau aku biarkan mungkin sampai tempat ini tutup kamu akan tetap dalam posisimu tadi” ohh, lihatlah lancar sekali aku berbicara. “Ohehe, itu, yaa, mau minta tolong males sih, sstt..jujur aja orang-orang disini lebih kayak patung daripada manusia, hihi..” Aku terdiam, jika tadi aku tidak menolongnya, mungkin baginya aku juga adalah bagian dari makhluk-makhluk disini, manusia bukan, patung juga bukan. Hampir saja. Setan darimanpun kamu. Terima kasih. Kami berbincang banyak hal hari ini. Setelah hari ini, hidupku berubah…

Senin, 24 Agustus 2015

Bulan Di Langit Pagi Bagian 1 ( Namanya Zahra)

Saat hati telah menjadi teramat lelah. Mungkin, kepentingan duniawi sudah terlalu menyesakkan dada, sedang naluri ruhiyah sudah terlalu lapar dan meminta disegerakan atas pemenuhan haknya.

 " Kepada pagi yang lebih pekat dari malam, yang meneteskan rintik-rintik air langit. Ku isyaratkan senyum dan haru. Kupeluk melatiku. Yang mati di lembah madu". Pagi bergulir setelah masa panjang 24 jam terlewati. Menyibak tirai-tirai gelap. Membuka tabir, memutar roda kehidupan sekali lagi. Membawa harapan bagi mereka yang gagal di pagi sebelumnya. Bagi mereka, tidak bagiku. Diantara waktu 24 jam yang bergulir, aku selalu membenci pagi. Bagiku, ia penipu yang lebih ulung dari malam. Membawa harapan, khayalan, impian yang semu. Pagi, aku selalu benci".

    Suasana masih begitu pagi waktu itu, burung-burung di samping jendela pun masih enggan berkicau. Pagi itu menjadi pagi yang benar-benar tidak akan pernah terlupakan, pagi yang sangat mengerikan, aku percaya tidak ada satu orang pun dari kalian yang menginginkan kejadian memilukan seperti apa yang sedang terjadi pada Zahra dan adiknya, Azis. Kedua mata mereka yang kecil dan masih teramat polos dipaksa harus menyaksikan pertengkaran ibu dan ayahnya. Suasana Rumah mewah dan kokoh di pinggiran kota Bogor itu tampak mencekam, diliputi oleh amarah yang menggeledak.

  Kata ‘Poligami’ yang dari tadi terus keluar dari mulut malaikat bernama ibu yang biasanya selalu penuh dengan ketulusan dan kasih sayang. Hari itu, ibu berubah menjadi seseorang yang tidak Zahra kenali lagi. Segala kata-kata yang tidak pantas didengar oleh Zahra kecil dan adiknya terucap dari bibir malaikat Zahra itu. Ayah hanya terdiam, tak mampu berucap sepatah katapun. Zahra kecil benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi, padahal kemarin Ibu dan ayah masih terlihat baik-baik saja. Yang ia tahu ia marah pada ibunya saat ini, ia marah karna ibu memarahi ayahnya seperti itu. Zahra kecil begitu ingin berlari dan menghentikan ibu memarahi ayah, tetapi, hanya dengan melihat raut wajah dan mata ibu yang begitu merah seperti ada api di dalamnya sudah cukup membuat Zahra gentar dan mengurungkan niatnya.

  "Kak, Aziz takut. Kok ibu jadi serem, ya, kak? Ibu sama ayah kenapa, kak?". "Kakak juga gak tahu, dik, kita berdoa aja, ya, biar ibu cepet berhenti marah-marah sama ayah". "Pergi kamu!!! Pergi!!! Bersama perempuanmu yang kotor dan murahan itu!!! Daripada aku kamu madu, lebih baik kita cerai. Pergi!!!". Hari itu, ibu mengusir ayah dan memutuskan berpisah. Ayah lebih memilih bersama pacarnya daripada keluarganya sendiri. Cinta sesaat membuat ayah gelap mata dan menghancurkan keluarga yang sudah sekian lama dibangunnya. Ibu dan Ayah akhirnya benar-benar berpisah dan hak asuh anak jatuh ketangan ibu dengan alasan Zahra dan Aziz masih teramat kecil untuk memilih ingin ikut dengan siapa. Sejak itu Zahra kehilangan kasih sayang seorang ayah. Sejak berpisah, tak pernah lagi Zahra melihat ayahnya datang atau sekedar mendengar kabarnya. Seakan akan ayah hilang ditelan Bumi. Ibu berusaha membuat Zahra kecil dan adiknya yang masih begitu polos untuk paham dan mengerti apa yang sudah terjadi.

  Zahra yang polos itu dituntut harus paham peristiwa yang menimpa keluarga mereka. Di dalam hati kecilnya Zahra kecil berjanji, bersumpah kelak ia dan adiknya , bahwa keturunannya nanti tidak akan pernah merasakan apa yang kini dialami keluarganya.

Sabtu, 09 Mei 2015

Melati Di Kala Senja

Untuk melatiku yang putih, kecil dan wangi. Yang kutemukan diantara baris-baris sajak senjaku setahun lalu. Tetaplah tegar dan mewangi, meski belukar berduri mengejek engkau tak secantik mawar atau seanggun anggrek. Dengarlah, mawar dan anggrek tak bisa hidup diantara himpitan belukar berduri tapi kamu yang kecil dan lemah mampu bertahan tetap hidup, tetap tegar dan senantiasa mewangi. Lebih cantik. Lebih anggun saat senja yang jingga berpadu dengan kulitmu yang putih. Aku mencintaimu, sampai nanti akan tetap mencintaimu. Temani aku hingga senjaku berlalu malam. Tua dan layu bersama. #E

Walau Hanya Untuk Sedetik

Setahun sudah berlalu sejak roda nasib membawamu pergi dariku. Tapi, aku masih tetap saja berada di waktu itu. Tak bergerak, tak pernah beranjak. Tersesat dan terjebak dalam lingkaran lingkaran bulat gelembung kenangan. Belajar untuk tetap baik-baik saja. Menepis segala luka, perih seakan tak pernah ada. Tertawa bersama dunia yang sejatinya menertawakan betapa tebal topengku. Setahun dalam kebohongan begitu banyak juga cinta yang datang dan pergi. Tapi tak ada yang berarti. Tak berasa. Hambar. Terlalu besar mungkin rasaku untukmu hingga mereka tampak hanya seperti bui yang menguap bersama panas. Setahun itu pula nasib tak menginjinkan aku mendengar walau hanya sebaris kata-katamu. Hanya alunan doa saja yang tak pernah putus berharap sedikit kebaikan Tuhan mau mengantarnya ke hatimu. Tuhan, walau hanya sedetik aku ingin bebas menjadi awan. Merasakan ketegarannya yang begitu setia menunggu hujan turun. Lalu tetap setia menjadi awan menunggu hujan yang mengembara di Bumi meninggalkannya sendirian di atas. #E

Kamis, 07 Mei 2015

Sunyaruri(Bagian 1)

Hampir 5 jam sudah aku berada di tempat ini. Sejak baru dibuka tadi. Aku yang pertama. Selalu yang pertama sejak sebulanan terakhir. Aku suka tempat ini, selalu suka. Aku bisa sendirian, berjam-jam menatap kosong jauh keluar dari sudut kaca bening di sudut ruang. Bersama bau yang begitu khas, yang mungkin kalian orang-orang normal akan benci. Bau buku-buku tua yang bertakhta rapi di rak yang juga tak kalah tuanya. Tunggu, tadi aku berkata kalian adalah orang-orang normal, kan? Lalu, apa itu berarti aku tidak normal? Oh, tidak, tunggu, jangan gegabah berspekulasi. Aku sama seperti kalian. Manusia biasa, punya tubuh sempurna, lalu? Ya, hanya sedikit berbeda mungkin. Begini, biar kuberi contoh. Misalnya seseorang yang tidak kalian kenal tiba-tiba saja datang dan memukul wajah kalian. Mungkin saat itu juga amarah kalian akan meledak dan balik memukul. Tapi, aku tidak. Apa itu karena aku terlalu baik? Tunggu, kuberi contoh lagi. Suatu hari kalian berulang tahun, lalu orang tua kalian membuatkan suatu pesta yang meriah dan memberi kalian hadiah yang kalian inginkan misalnya. Mungkin kalian akan berteriak teriak bahagia bahkan mungkin sampai menangis. Tapi, aku tidak. Sudah mulai paham? Ah, mungkin aku terlalu bertele-tele. Begini saja, simpelnya. Aku tak bisa menunjukan emosi. Ya, tak bisa menunjukan bahwa aku marah, senang, bahagia, sedih atau sakit. Segalanya tampak datar. Biasa, tak ada perbedaan. Sakit? Tidak, aku tidak sakit. Aku bukan pengidap "Alexitimia". Mungkin saja disebabkan trauma masa lalu. Aku punya teman, punya orang tua, juga punya saudara. Hanya, aku tak pernah butuh mereka. Aku tak pernah menggangap mereka penting bahkan ada. Aku hidup di duniaku sendiri. Dunia yang membuatku merasa aman, nyaman, tak pernah takut seperti jika aku berada di dunia kalian. Hanya aku sendirian. Tidak ramai seperti dunia kalian. Yang membuatku menggigil ketakutan saat berada diantaranya. Sampai kamu datang dan memaksaku keluar. Setahun lalu, seperti biasa aku sedang berada di tempat ini. Menatap kosong jauh keluar dinding kaca. Sendirian, begitu khusyuk. "Brukk..." "auww". Ritualku buyar. Beberapa langkah dari tempatku berdiri seorang gadis tampak sedang kesulitan berdiri. Rupanya ia terpeleset dan jatuh. Ia tampak bersusah payah berdiri. Ia tak berusaha meminta pertolongan. Mungkin tahu, saat menginjakan kaki di tempat ini semua akan masuk ke dunianya masing-masing tak akan lagi perduli pada hal-hal disekitarnya. Pun aku hanya mengamati, ia masih sulit berdiri. Berusaha bertumpu pada tongkatnya. Sepertinya kakinya lumpuh... Bersambung

Selasa, 05 Mei 2015

Biar Aku Jadi Awan(Part 2)

Waktu bergulir begitu cepatnya. Terlalu cepat kurasa. Rasanya kemarin aku dan kamu masih seorang bayi yang begitu asyik bermain tanpa memikirkan masalah masalah dunia yang tak pernah ada habisnya. Hemm...setiap mengingatnya aku selalu tertawa. Tapi dunia terus berputar ya, kita tak bisa tetap hanya jadi bayi yang sibuk bermain. SD, SMP, sekarang kita sudah SMA. Kamu tumbuh jadi gadis tangguh, sahabat yang terbaik, pelindung yang selalu dapat aku andalkan. Melindungiku yang takut berhadapan dengan dunia. Aku yang lemah, yang memilih hidup mengasingkan diri dari pergaulan. Kamu yang tak pernah lelah mengajariku jadi kuat sepertimu. Berani, tegar menantang dunia. Aku mencintaimu sebagai sahabat. Kamu yang kupanggil kijang karna berbadan ramping tapi begitu lincah dan kamu yang selalu menyebutku kura-kura lambat dan selalu bersembunyi dalam tempurungku..hehee. Tapi, seiring waktu yang bergulir kenyataan pun mengucap sabdanya. Perasaanku tumbuh, aku pun hampir tak menyadarinya. Malam itu, ya, aku masih ingat. Terjadi begitu saja. Sakit yang tiba-tiba saat kamu memperkenalkan dia. "Hee..kura-kura, sini kenalin, Edric pacar gue" katamu. Aku terperanjat, entah datangnya darimana amarahku yang tiba-tiba itu. "Nama gue Nessa!!, bukan kura-kura" kataku dengan nada tinggi. Kamu terperanjat. Selama ini aku belum pernah membentakmu. Bersambung...

Minggu, 03 Mei 2015

Pertemuan Yang Salah

Pernah tidak kalian berfikir, tidak selalu tapi mungkin pernah. Tentang setiap hal yang terjadi di kehidupan kita. Yang kadang kadang apa yang tidak kita harapkan justru sering menjadi nyata ketimbang apa yang kita harapkan. Pertemuan misalnya, seperti aku juga. Bertemu dia mungkin, ya, di waktu yang salah. Pertemuan singkat yang tak lebih dari beberapa jam saja namun mampu memaksaku untuk terus masuk menerjang segala resiko. Saat aku tak sengaja masuk di hidupmu yang saat itu telah berdua. Kubilang aku mau jadi sahabatmu kan? Hee.. Kenyataan yang terjadi tak begitu. Perasaan ini hidup, tumbuh dan mengharap lebih. Suatu hari entah apa sebabnya kamu dan dia akhirnya memutuskan menyudahi apa yang sudah kalian bangun. Aku senang sekaligus sedih. Berfikir apa ini salahku? Waktu terus berjalan. Tapi kita tetap seperti ini, tetap dalam ikatan persahabatan tak lebih. Akupun tak mau meminta lebih, takut akan merusak lagi semuanya. Meski sebenarnya kamu tahu perasaanku kan? Tapi aku tak pernah tahu seperti apa rasamu. Biar saja lebih baik aku tak tahu untuk sekarang, mungkin juga nanti tak perlu tahu. Jika bagimu ternyata aku hanyalah segumpal awan yang hadirnya hanya boleh sementara. Maka biarlah. Aku pergi. Menunggu hujan yang berikutnya. Senin, 04-05-2015, Ditulis saat hujan sedang turun #E

Biar Aku Jadi Awan(Part 1)

20 tahun sudah kita melangkah di Bumi. Menjelajah, menelusuri, mencari apa sebenernya tujuan kita berada disini. Tapi, bukan itu yang mau aku bahas. Bukan, bukan tentang pencarian jati diri aku atau kamu. Aku hanya mengenang tentang rencana atau kebetulan yang memang mungkin sudah dipersiapkan dari sejak semula. Ya, tepatnya aku sedang membahas tentang kita. Aku dan kamu. Kita lahir pada hari yang sama, tanggal yang sama, di jam yang hampir sama pula. Hanya aku lebih cepat 1 jam, seingatku. Tidak, kita bukan saudara atau keluarga. Kita 2 manusia yang dipertemukan takdir mungkin. Setelah itu secara ajaib takdir memainkan perannya. Aku dan kamu tumbuh besar bersama. Kamu yang seorang ekstrovert tumbuh menjadi wanita periang dengan segudang teman. Aku, aku kebalikannya. Seorang introvert stadium akhir yang hanya punya kamu sebagai sahabat. Lemah, kuper, tersisihkan dari dunia. Tapi, si kuper ini menyimpan sesuatu. Ya, sesuatu yang tak kusangka begitu berpengaruh untuk kita beberapa tahun ke depan. Bersambung... #E

Jumat, 01 Mei 2015

Setegar Senja

Senja kita berganti. Puluhan, ratusan mungkin telah datang saling silih. Memoriku bergolak. Melintas kembali pada satu masa. Hari itu, waktu itu, ya, senja itu. Kali pertama aku mengajarimu bagaimana menimati 10 detik hitung mundurnya. 10 detik yang memalingkan ku darinya. 10 detik senjaku yang berganti menatap terpanah pipimu yang berubah merah merona. Hari itu, waktu itu. Senja itu. Kita telah jatuh cinta. Waktu bergulir begitu cepat, kurasa. Memaksa kita harus bertaruh segalanya dalam jarak. Aku di sini, kamu di sana. Terpisah ratusan kilometer. Puluhan kota yang merentang, bahkan laut yang terlihat semakin angkuh. Memaksa kita harus tegar menikmati senja kita masing-masing. Senja akan terus bergulir , terbit dan tenggelam. Aku berubah, kamu berubah, senja kita pun berubah. Kita kalah, jarak merenggut segalanya yang kita pertaruhkan. Hilang semua janji, mimpi yang kita gantung di langit yang begitu jingga. Melati kita yang tumbuh di kala senja pun telah mati termakan ilalang. Kudengar kamu tak lagi sendiri menghitung mundur 10 detik senjamu. Sudah ada dia, yang begitu erat menggengam erat jemarimu, hingga kamu pun mungkin enggan berpaling lagi. Aku tak akan bersedih, kekasih. Aku akan tegar. Seperti senja kita, yang jadi bayang di antara siang dan malam. Hanya sesaat namun amat kita rindukan. Aku akan jalan lagi. Menemukan senja ku sendiri. Kali ini, nyawaku akan menjaganya. #E

Kamis, 16 April 2015

Seperti Angin


Karena terkadang rasa ini seperti diterpa angin
Seketika ia muncul dan membuatku merasa mimpi ini 
begitu nyata
Namun seketika pula ia menghilang begitu saja tak berbekas, 
seakan tak pernah benar-benar ada.
Sejak hari itu aku merasa ingin menunggu hingga hati ini 
kembali dan membuat kita menjadi nyata.
Aku-Kamu-Dia dan Mereka.
Bukankah Tuhan menciptakan manusia dengan memori 
untuk menyimpan kenangan yg pernah terjadi?
Kuharap itu tak akan pernah lekang oleh waktu, 
sehingga kapanpun aku kembali nanti untuk ingin mengingatmu, 
kamu akan selalu ada di sana.
membuatku tersenyum sekali lagi,meski hanya jadi masa lalu.
Aku tau juga kembali ke masa lampau bisa membuatku sakit
masih jelas juga ingatanku tentang bagaimana rasa sakit itu 
menyiksa jiwa.
Lalu mengapa aku bersi keras untuk kembali ?
Taukah kamu?
Aku sadar semua cerita indah kita berawal dari rasa sakit itu.
Dari kebencian,putus asa,amarah,dendam dan gelap di hidupku 
saat itulah aku bisa melihatmu.
Membuat rasa ini semakin jelas
karena setiap kali aku mememejamkan mata dan saat 
aku terbangun, selalu ada kamu disana.
Mau menyangkalpun aku tak bisa, mengapa aku 
harus menyangkal kalau lebih mudah untuk mengakuinya?
Aku tau kita tidak akan selalu baik-baik saja, tapi bisakah
ijinkan aku disini bersamamu?
Aku mencintaimu, aku tidak tau bagaimana ataupun mengapa.
Itu terjadi begitu saja. 
#A

Biar Saja



 Mungkin kau bertanya-tanya dalam benakmu.
Mungkin kau juga tak akan bisa mengerti 
sekalipun kujelaskan dengan kata-kata
Mengapa aku memilih untuk tetap disini ?
Mengapa aku lebih memilih bertahan 
dan menikmati waktu disini
bersamamu walau hanya seperti dalam anganku saja?
Semua itu memang seperti tak masuk akal
Ketika aku harus mencintaimu 
sembari meneguk pahitnya kenyataan bahwa mungkin,
 kita tidak seharusnya bersama
Bukannya aku tak ingin, hanya tak bisa
Karena terkadang dunia mengingatkanku tentangmu 
yang seperti malaikat dalam gelap, 
bisa kulihat tapi tak akan pernah bisa kugapai.

Biarkan saja waktu berlalu
dan cinta ini juga tetap ada 
seperti musim semi yang tak bisa terelakkan 
Karena aku memang takkan ingin berpaling.
#A

Salah Apa


aku tidak mengerti apa yang salah.
tentang aku,kamu,kita.
Mengapa kita harus berakhir seperti ini..?
mungkinkah kesalahan saat kita bertemu, saat cinta mulai tumbuh dan bersemi dibulan juni waktu itu, saat hujan membasahi seluruh tubuhku dan kau membiarkan dirimu membeku melindungiku.
andai saja waktu itu aku berpaling dan menyudahi semuanya, mungkinkah semuanya akan tetap baik-baik saja?
ataukah kesalahan itu ada saat pertama kali tangan ini saling bertautan, pagi itu, saat hanya ada hening dan sepi jadi saksi bisunya. 
jika waktu itu aku menepismu, mungkinkah cinta tidak berjalan terlalu jauh dan kita akan baik-baik saja?
Apa kesalahan itu memang terjadi saat kata cinta itu terucapkan.. 
waktu itu, saat senja berakhir.. 
dan aku berjanji untuk menunggumu datang, menunggu cintamu yang harusnya bukan milikku-tidak pernah?
Mungkin aku terlambat menyadari semua, maafkan karena membiarkan semua ini terlalu jauh, maafkan untuk menahanmu dengan cinta ini.
Harusnya kusadari sejak dulu, harusnya kuhentikan semuanya.   
Harusnya aku berlalu, tak perlu menunggu, atau sekedar berharap tentang hari bahagia saat kita bersama, karena cinta ini hanya kesemuan belaka. 
Kau hanya mimpi dalam kenyataanku.
#A

Minggu, 22 Maret 2015

Cinta semanis Pare

   “Jadi,gue harus ikut gitu ke Pare besok? Tanyaku malas pada sosok lelaki betubuh tinggi besar  yang sedari tadi sibuk sendiri mengatur rambutnya.”Ya,harus dong,kamu kan udah janji bakal nemenin aku les di Pare.Lagipula cuman 2 minggu kok”.”Iya deh,iya,gue temenin.Tapi biaya makan dan keperluan yang lain kamu yang nanggung,ya”.”Iya,iya,dasar pelit” katanya tertawa sambil mengacak ngacak rambutku seperti yang biasa ia lakukan.Dan entah aku selalu merasa  nyaman saat ia melakukannya.
          Kami lahir di waktu yang hampir berbarengan,hanya ia lebih cepat beberapa jam saja.kami tumbuh dan hampir tak ada aktifitas yang kulewatkan tanpanya.”Kuingin kau menjadi milikk ku,entah bagaimana caranya.Lihatlah mata ku untuk meminta mu.Kuingin jalani bersama mu”.Ponsel ku bordering,sebuah lagu yang manis dari club 80’s membuyarkan lamunan ku.”Jelek,sudah tidur?” suaranya yang cempreng tapi selalu terdengar merdu ditelingaku memecah lamunan.”Belum,kenapa?””lagi apa loe,udah nyiapin keperluan yang mau dibawa besok?””lagi ngelamunin Rahwana ni,udah kok” jawabku asal.”Hahaha…,dasar aneh loe,punya idola kok rahwana,idola tuh kayak SMASH atau SUPER JUNIOR gitu kek,ini malah Rahwana,hahaha…” Tawanya mengejek.”Biarin loe,aja yang gak tahu betapa kerennya Rahwana” jawab ku pura-pura kesal.”Haha..dasar cewek aneh,terserah loe,deh,tidur sana,besok aku jemput pagi-pagi.Biar gak kena macet,awas bangkong” cerocosnya sudah seperti ustadz berceramah.”Iya,cerewet,ini mau tidur kok,cerewet lagi gue sumpal loh pake kaos kaki..hahaha…” Balasku sambil tertawa,”uuh,kaos kaki mu kan bau busuk banget,iya deh,selamat tidur,jelek.Aku tutup,ya,telfonnya” katanya sebelum memutuskan sambungan telfon.
         Seperti itulah,setiap malam selalu aku rasakan hangatnya perhatiannya,ya,walau singkat tapi sudah cukup bisa membuatku tidur nyenyak dan rasanya tak mau lagi bangun dari mimpi.Ia memang seperti itu,meski sangar dan terlihat garang di luar dengan sosoknya yang mungkin bagi orang-orang terlihat persis seperti Rahwana.Kekar,tinggi seperti raksasa,berkulit gelap namun dengan kumis dan brewok yang ditata rapi,manis sekali,oh,ya,tak lupa dengan rambut gondrongnya,hihi…
       “Titt..titt..” Bunyi klakson memecah kesunyian pagi,menggangu konsentrasi sarapan ku.Ia sudah datang.Sang Rahwana datang untuk menculik Sinta dari mamanya.”Pagi,ma” seperti biasa ia sudah begitu akrab dengan keluarga ku,sampe ia menggangap mama ku itu mamanya sendiri.”Eeh,Dric,ayo sarapan dulu,kan mau perjalanan jauh”.”Iya,ma,udah sarapan kok tadi di Rumah,emang sengaja berangkat pagi biar gak kena macet”.Jawabnya sok akrab.”Jelek,ayo buruan ntar kesiangan kena macet loh” katanya sambil mencubit hidungku.Ahh,masih pagi dan dia sudah membuat jantung ini berdebar debar tak karuan seperti maling yang takut kepergok sedang mencuri mangga milik pak rt.”Iya,berisik,bentar,apasih narik-narik hidung,gak bikin mancung,sakit,iya” jawab ku pura-pura kesal.”Ma,Nissa berangkat,ya”.”Iya,hati-hati jangan ngebut di jalan,ya,Dric” pesan mama.”Iya,ma,pasti kok tenang aja” katanya sambil mengacak ngacak rambut ku.”Kalian ini serasi sekali” kata mama membuat  ku tersipu malu.”Ahh,mama,apaan sih,masih pagi juga,udah yuk buruan” jawab ku sewot sambil tersipu malu.
          Perjalanan dari Malang menuju Pare kira-kira 2 jam.Kami sengaja mengambil rute gunung ,agar tak kena macet dan sekalian menikmati indahnya alam Indonesia yg belum banyak terjamah ini.Tapi,tetap saja,indah dan sejuknya alam ini tak mampu mengalihkan perhatianku dari sosok disampingku yang sedang berkonsentrasi penuh menyetir.”Kamu,kenapa sih ngeliatin aku begitu banget,ada yang salah sama mukaku,atau jangan-jangan kamu terpesona sama ketampanan ku?hahaha…” “Yee,GR,siapa juga yang liatin kamu,orang lagi liatin itu tuh oaring yang lagi main paralayang” jawab ku coba mengelak.Entah,perasaan ini semakin hari semakin tak dapat aku kontrol,semakin aneh,ia terus tumbuh,tumbuh dan tumbuh.Membuncah hingga akhirnya siap meledak dan menghancurkan apa saja yang ada disekitarku.

Rabu, 18 Maret 2015

"Terbiasa Tanpamu"


 

Hujan turun sangat deras,sederas tangisku yang pecah diantara ribuan rintik hujan yang jatuh ditengah pemakaman siang itu. Perih, sampai-sampai rasanya ingin mati saat itu juga. Aku meratapi tulisan yang mengukir nama diatas batu nisan dihadapanku. Arya Aditya, nama yang punya makna sangat dalam dihatiku. Ini Tragedi! Bagaimana mungkin kamu yang berbaring di sini? Gak mungkin! "Arya.." aku mencoba memanggil namanya sambil menangis sesenggukan. "Arya.." tak ada yang menjawabku hanya terdengar suara hujan yang turun semakin deras. Dingin yang seakan membekukan tubuhku tak cukup membuatku enggan berlama-lama disini. Lukaku terlalu nyata "Arya.. Ini bukan kamu kan? Tolong bilang sama aku, ini bukan kamu! Please datanglah kesini dan katakan kalau yang terbaring di dalam sana bukan kamu !"

Jumat, 06 Maret 2015

Padang biru

Aku bercerita kepada malam kala itu,disaat dingin begitu mencekam setelah hujan senja tadi.

Masih tersisa bulir-bulir beningnya,sendu,bagai putri yang cemas mananti pangeran berkuda putih.

Aku bercerita,mengadu padanya tentang kerinduanku pada seorang gadis,yang senyumnya teduh namun juga mampu melululantahkan hati.

Gadis yang begitu kurindukan,meski aku tahu ia tak pernah tahu aku ada.Gadis yang selalu sedih bercerita tentang kisah-kisah pilu hidupnya.

Tapi,kini ia tak pernah lagi datang.Tak pernah lagi berteriak memanggil namaku.Si lautan biru.

#E



Salam dan salam

Haiiiiiiii!!

Selamat datang di dunia kami

Selamat menikmati setiap keunikan isi didalamnya :D

Admin satu ada kakak Edric yang kece badai,admin dua ada kakak Gina yang super cute tapi agak galak hehehee dan admin tiga ada kakak Aan yang manis gula-gula heuheuheu... :D

Selamat datang dan selamat menikmati dunia kami :D
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik