Pages

Minggu, 22 Maret 2015

Cinta semanis Pare

   “Jadi,gue harus ikut gitu ke Pare besok? Tanyaku malas pada sosok lelaki betubuh tinggi besar  yang sedari tadi sibuk sendiri mengatur rambutnya.”Ya,harus dong,kamu kan udah janji bakal nemenin aku les di Pare.Lagipula cuman 2 minggu kok”.”Iya deh,iya,gue temenin.Tapi biaya makan dan keperluan yang lain kamu yang nanggung,ya”.”Iya,iya,dasar pelit” katanya tertawa sambil mengacak ngacak rambutku seperti yang biasa ia lakukan.Dan entah aku selalu merasa  nyaman saat ia melakukannya.
          Kami lahir di waktu yang hampir berbarengan,hanya ia lebih cepat beberapa jam saja.kami tumbuh dan hampir tak ada aktifitas yang kulewatkan tanpanya.”Kuingin kau menjadi milikk ku,entah bagaimana caranya.Lihatlah mata ku untuk meminta mu.Kuingin jalani bersama mu”.Ponsel ku bordering,sebuah lagu yang manis dari club 80’s membuyarkan lamunan ku.”Jelek,sudah tidur?” suaranya yang cempreng tapi selalu terdengar merdu ditelingaku memecah lamunan.”Belum,kenapa?””lagi apa loe,udah nyiapin keperluan yang mau dibawa besok?””lagi ngelamunin Rahwana ni,udah kok” jawabku asal.”Hahaha…,dasar aneh loe,punya idola kok rahwana,idola tuh kayak SMASH atau SUPER JUNIOR gitu kek,ini malah Rahwana,hahaha…” Tawanya mengejek.”Biarin loe,aja yang gak tahu betapa kerennya Rahwana” jawab ku pura-pura kesal.”Haha..dasar cewek aneh,terserah loe,deh,tidur sana,besok aku jemput pagi-pagi.Biar gak kena macet,awas bangkong” cerocosnya sudah seperti ustadz berceramah.”Iya,cerewet,ini mau tidur kok,cerewet lagi gue sumpal loh pake kaos kaki..hahaha…” Balasku sambil tertawa,”uuh,kaos kaki mu kan bau busuk banget,iya deh,selamat tidur,jelek.Aku tutup,ya,telfonnya” katanya sebelum memutuskan sambungan telfon.
         Seperti itulah,setiap malam selalu aku rasakan hangatnya perhatiannya,ya,walau singkat tapi sudah cukup bisa membuatku tidur nyenyak dan rasanya tak mau lagi bangun dari mimpi.Ia memang seperti itu,meski sangar dan terlihat garang di luar dengan sosoknya yang mungkin bagi orang-orang terlihat persis seperti Rahwana.Kekar,tinggi seperti raksasa,berkulit gelap namun dengan kumis dan brewok yang ditata rapi,manis sekali,oh,ya,tak lupa dengan rambut gondrongnya,hihi…
       “Titt..titt..” Bunyi klakson memecah kesunyian pagi,menggangu konsentrasi sarapan ku.Ia sudah datang.Sang Rahwana datang untuk menculik Sinta dari mamanya.”Pagi,ma” seperti biasa ia sudah begitu akrab dengan keluarga ku,sampe ia menggangap mama ku itu mamanya sendiri.”Eeh,Dric,ayo sarapan dulu,kan mau perjalanan jauh”.”Iya,ma,udah sarapan kok tadi di Rumah,emang sengaja berangkat pagi biar gak kena macet”.Jawabnya sok akrab.”Jelek,ayo buruan ntar kesiangan kena macet loh” katanya sambil mencubit hidungku.Ahh,masih pagi dan dia sudah membuat jantung ini berdebar debar tak karuan seperti maling yang takut kepergok sedang mencuri mangga milik pak rt.”Iya,berisik,bentar,apasih narik-narik hidung,gak bikin mancung,sakit,iya” jawab ku pura-pura kesal.”Ma,Nissa berangkat,ya”.”Iya,hati-hati jangan ngebut di jalan,ya,Dric” pesan mama.”Iya,ma,pasti kok tenang aja” katanya sambil mengacak ngacak rambut ku.”Kalian ini serasi sekali” kata mama membuat  ku tersipu malu.”Ahh,mama,apaan sih,masih pagi juga,udah yuk buruan” jawab ku sewot sambil tersipu malu.
          Perjalanan dari Malang menuju Pare kira-kira 2 jam.Kami sengaja mengambil rute gunung ,agar tak kena macet dan sekalian menikmati indahnya alam Indonesia yg belum banyak terjamah ini.Tapi,tetap saja,indah dan sejuknya alam ini tak mampu mengalihkan perhatianku dari sosok disampingku yang sedang berkonsentrasi penuh menyetir.”Kamu,kenapa sih ngeliatin aku begitu banget,ada yang salah sama mukaku,atau jangan-jangan kamu terpesona sama ketampanan ku?hahaha…” “Yee,GR,siapa juga yang liatin kamu,orang lagi liatin itu tuh oaring yang lagi main paralayang” jawab ku coba mengelak.Entah,perasaan ini semakin hari semakin tak dapat aku kontrol,semakin aneh,ia terus tumbuh,tumbuh dan tumbuh.Membuncah hingga akhirnya siap meledak dan menghancurkan apa saja yang ada disekitarku.

Rabu, 18 Maret 2015

"Terbiasa Tanpamu"


 

Hujan turun sangat deras,sederas tangisku yang pecah diantara ribuan rintik hujan yang jatuh ditengah pemakaman siang itu. Perih, sampai-sampai rasanya ingin mati saat itu juga. Aku meratapi tulisan yang mengukir nama diatas batu nisan dihadapanku. Arya Aditya, nama yang punya makna sangat dalam dihatiku. Ini Tragedi! Bagaimana mungkin kamu yang berbaring di sini? Gak mungkin! "Arya.." aku mencoba memanggil namanya sambil menangis sesenggukan. "Arya.." tak ada yang menjawabku hanya terdengar suara hujan yang turun semakin deras. Dingin yang seakan membekukan tubuhku tak cukup membuatku enggan berlama-lama disini. Lukaku terlalu nyata "Arya.. Ini bukan kamu kan? Tolong bilang sama aku, ini bukan kamu! Please datanglah kesini dan katakan kalau yang terbaring di dalam sana bukan kamu !"

Jumat, 06 Maret 2015

Padang biru

Aku bercerita kepada malam kala itu,disaat dingin begitu mencekam setelah hujan senja tadi.

Masih tersisa bulir-bulir beningnya,sendu,bagai putri yang cemas mananti pangeran berkuda putih.

Aku bercerita,mengadu padanya tentang kerinduanku pada seorang gadis,yang senyumnya teduh namun juga mampu melululantahkan hati.

Gadis yang begitu kurindukan,meski aku tahu ia tak pernah tahu aku ada.Gadis yang selalu sedih bercerita tentang kisah-kisah pilu hidupnya.

Tapi,kini ia tak pernah lagi datang.Tak pernah lagi berteriak memanggil namaku.Si lautan biru.

#E



Salam dan salam

Haiiiiiiii!!

Selamat datang di dunia kami

Selamat menikmati setiap keunikan isi didalamnya :D

Admin satu ada kakak Edric yang kece badai,admin dua ada kakak Gina yang super cute tapi agak galak hehehee dan admin tiga ada kakak Aan yang manis gula-gula heuheuheu... :D

Selamat datang dan selamat menikmati dunia kami :D
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik