“Jadi,gue harus ikut gitu ke Pare besok? Tanyaku malas pada sosok lelaki
betubuh tinggi besar yang sedari tadi
sibuk sendiri mengatur rambutnya.”Ya,harus dong,kamu kan udah janji bakal nemenin
aku les di Pare.Lagipula cuman 2 minggu kok”.”Iya deh,iya,gue temenin.Tapi biaya makan
dan keperluan
yang lain kamu yang nanggung,ya”.”Iya,iya,dasar pelit” katanya tertawa sambil
mengacak ngacak rambutku seperti yang biasa ia lakukan.Dan entah aku selalu merasa nyaman saat ia melakukannya.
Kami
lahir di waktu yang hampir berbarengan,hanya ia lebih cepat beberapa jam
saja.kami tumbuh dan hampir tak ada aktifitas yang kulewatkan tanpanya.”Kuingin
kau menjadi milikk ku,entah bagaimana caranya.Lihatlah mata ku untuk meminta
mu.Kuingin jalani bersama mu”.Ponsel ku bordering,sebuah lagu yang manis dari
club 80’s membuyarkan lamunan ku.”Jelek,sudah tidur?” suaranya yang cempreng tapi
selalu terdengar merdu ditelingaku memecah lamunan.”Belum,kenapa?””lagi apa loe,udah nyiapin keperluan
yang mau dibawa besok?””lagi ngelamunin Rahwana ni,udah kok” jawabku
asal.”Hahaha…,dasar aneh loe,punya idola kok rahwana,idola tuh
kayak SMASH atau SUPER JUNIOR gitu kek,ini malah Rahwana,hahaha…” Tawanya
mengejek.”Biarin loe,aja yang gak tahu betapa kerennya Rahwana” jawab ku
pura-pura kesal.”Haha..dasar cewek aneh,terserah loe,deh,tidur sana,besok aku
jemput pagi-pagi.Biar gak kena macet,awas bangkong” cerocosnya sudah seperti
ustadz berceramah.”Iya,cerewet,ini mau tidur kok,cerewet lagi gue sumpal loh pake kaos kaki..hahaha…”
Balasku sambil tertawa,”uuh,kaos kaki mu kan bau busuk banget,iya deh,selamat
tidur,jelek.Aku tutup,ya,telfonnya” katanya sebelum memutuskan sambungan
telfon.
Seperti
itulah,setiap malam selalu aku rasakan hangatnya perhatiannya,ya,walau singkat
tapi sudah cukup bisa membuatku tidur nyenyak dan rasanya tak mau lagi bangun
dari mimpi.Ia memang seperti itu,meski sangar dan terlihat garang di luar
dengan sosoknya yang mungkin bagi orang-orang terlihat persis seperti
Rahwana.Kekar,tinggi seperti raksasa,berkulit gelap namun dengan kumis dan
brewok yang ditata rapi,manis sekali,oh,ya,tak lupa dengan rambut
gondrongnya,hihi…
“Titt..titt..” Bunyi klakson memecah kesunyian pagi,menggangu
konsentrasi sarapan ku.Ia sudah datang.Sang Rahwana datang untuk menculik Sinta
dari mamanya.”Pagi,ma” seperti biasa ia sudah begitu akrab dengan keluarga ku,sampe
ia menggangap mama ku itu mamanya sendiri.”Eeh,Dric,ayo sarapan dulu,kan mau
perjalanan jauh”.”Iya,ma,udah sarapan kok tadi di Rumah,emang sengaja berangkat
pagi biar gak kena macet”.Jawabnya sok akrab.”Jelek,ayo buruan ntar kesiangan kena
macet loh” katanya sambil mencubit hidungku.Ahh,masih pagi dan dia sudah
membuat jantung ini berdebar debar tak karuan seperti maling yang takut
kepergok sedang mencuri mangga milik pak rt.”Iya,berisik,bentar,apasih
narik-narik hidung,gak bikin mancung,sakit,iya” jawab ku pura-pura kesal.”Ma,Nissa
berangkat,ya”.”Iya,hati-hati jangan ngebut di jalan,ya,Dric” pesan
mama.”Iya,ma,pasti kok tenang aja” katanya sambil mengacak ngacak rambut
ku.”Kalian ini serasi sekali” kata mama membuat
ku tersipu malu.”Ahh,mama,apaan sih,masih pagi juga,udah yuk buruan”
jawab ku sewot sambil tersipu malu.
Perjalanan dari Malang menuju Pare kira-kira 2 jam.Kami sengaja mengambil rute gunung ,agar
tak kena macet dan sekalian menikmati indahnya alam Indonesia yg belum banyak
terjamah ini.Tapi,tetap saja,indah dan sejuknya alam ini tak mampu mengalihkan
perhatianku dari sosok
disampingku yang sedang berkonsentrasi penuh menyetir.”Kamu,kenapa sih
ngeliatin aku begitu banget,ada yang salah sama mukaku,atau jangan-jangan kamu
terpesona sama ketampanan ku?hahaha…” “Yee,GR,siapa juga yang liatin kamu,orang
lagi liatin itu tuh oaring yang lagi main paralayang” jawab ku coba
mengelak.Entah,perasaan ini semakin hari semakin tak dapat aku kontrol,semakin
aneh,ia terus tumbuh,tumbuh dan tumbuh.Membuncah hingga akhirnya siap meledak dan menghancurkan
apa saja yang ada disekitarku.
“Kamu jadi
ambil program apa,Nis? tanya Edric.”Aku
ngikutin kamu aja deh” jawab ku malas.Tujuan ku sebenarnya kesini mau untuk
liburan,tapi dia terus memaksa ku untuk ikut les juga,ya,biar waktu ku tak
banyak terbuang sia-sia,malas sih
sebenarnya tapi entah,aku tak kuasa menolak kata-katanya.”Program
speaking,vocab,sama pronunciation,ya,mbak,untuk 2 minggu 2 orang” katanya
sambil sibuk mengisi formulir. “Nis,kamu
masih inget gak sama janji kita waktu kita kecil dulu?”
“masih,masih,kok,kenapa? Sebenarnya aku malas mengingatnya,janji bodoh 2 orang
anak kecil yang dulu terdengar manis tapi sekarang bagai senjata yang membunuhku
pelan-pelan.”Iya,kita dulu janji kita selamanya bakal jadi teman,gak ada yang
boleh saling jatuh cinta atau apapun itu istilahnya,biar persahabatan kita gak
rusak..hehehe…lucu juga,ya.”Lucu baginya tapi pedih buat ku mendengar dia
mengucapkan kata-kata yang halus tapi begitu sadis.Tak ada yang boleh menyimpan
rasa cinta atau apapun itu istilahnya,benar-benar tak manusiawi.Cinta itu
gaib.Dia bisa datang kapan dan dimana saja,kepada siapa saja.”Dasar
tolol,tolol” umpat ku dalam hati.”Yaudah besok ada kelas pagi kan,ayo tidur”
katanya,seperti biasa sambil mencubit hidung ku.
“Oyy,ngeliatin
siapa sih ?serius amat” kataku membuyarkan lamunan
sosok Rahwana di depanku.”Itu,cantik
banget,ya,anggun,keliatan keibuan”.Kata-katanya membuat kupingku panas seketika,ia
sedang memperhatikan seorang gadis anggun yang duduk di pojokan kelas yang sibuk
mendengarkan tentor,tutor,tenor atau apapun lah itu istilahnya.Sabodo
teuing.Gadis itu,Nessa,aku akui berbeda sekali dengan ku yang agak urakan,dia
anggun,manis,wajahnya teduh juga lembut,khas orang sunda,siapapun pasti nyaman
melihatnya. “Dari tadi
kayaknya asik banget,ketawa-ketawa begitu ada apa sih?” Tanya ku penasaran pada
sang Rahwana.”Eeh,iya,ni lagi chat sama Nessa,ternyata dia juga lucu banget
orangnya” aku diam saja,entah mengapa hati ku tiba-tiba jadi panas,panas sekali,belum
pernah sebelumnya hati ku sepanas ini.Mungkin negara api sedang menjajah hati
ku.Mungkin saja.”Tau,ah,bodo,aku mau tidur” ia diam saja mengacuhkan ku,sibuk
dengan hpnya dan tertawa tawa sendiri seperti orang mabuk.Ya,mabuk cinta.Malam
ini tak ada cubitan hidung atau acakan rambut seperti biasa,tak ada,aku
menunggu,hingga tertidur,tetap tak ada. “Teh,mau kemana?” Tanya Edric
pada gadis yg sedang sibuk mengambil sepedanya.”Eeh,Dric,ini mau balik ke Kos,kenapa?
Balasnya,lembut sekali.”Sama siapa?naik sepeda,siang-siang panas gini?”
tanyanya sok perhatian. “Sama Eric kok,iya ni panas banget,lagi puasa
juga”katanya manja sambil menghapus keringat di dahinya.”Yaudah,teteh sama Eric
naik motor ku,biar aku sama Nissa naik sepeda..hehehe…” katanya, sok perhatian
sambil tersenyum manis.”Eeh,beneran gak apa-apa ni?” “Iya teh,sudah teteh sama Eric
duluan aja,kita ketemu di Kosan teteh,ya”.”Iya,yaudah deh makasih,ya,aku duluan kalau
gitu.”katanya sambil tersenyum manis sekali,menunjukan kepolosan dan keanggunan sebenar benarnya
wanita.”loe,loe,serius kita yang naik
sepeda?”Tanya ku protes,”iyalah,gak apa-apa kan sekali-sekali kamu juga perlu
olahraga..hehehe…” katanya,sambil cengar-cengir senang,entah apa yang si bodoh
ini fikirkan.
“Kamu
tau,Nis,aku belum pernah jatuh cinta sebegininya sama orang sebelumnya,dia
wanita spesial,teramat spesial” katanya,terus menerus memuji gadis
itu,telingaku sampai panas,mendengar Rahwana ku menyebut namanya benar-benar
merusak mood ku,membuatnya berantakan tak karuan.”Spesial?martabak kali
special,lebay,ahh.” Jawab ku ketus.”Ahh loe,lagi serius juga,bentar lagi kita mesti
balik,bakal gak bisa lagi liat dia,harus gimana,ya?apa aku harus nyatakan perasaanku?mengatakan
kalau aku mencintai dia?atau tetap diam begini sampai dia benar-benar
pergi”.”Terserah,terserah” aku jawab seadanya sesuai mood ku.”loe,kenapa sih?dari tadi aneh
banget?” “gak apa,sudah gue mau tidur jangan ganggu,jangan berisik.” Malam ini juga tak ada cubitan
atau acakan seperti sebelum kami datang ke Pare,aku menunggu tapi ia acuh tak
acuh,ia seperti sudah menemukan dunianya sendiri,aku tak boleh berada
didalamnya,hanya dia dan mungkin gadis itu.”memang tak ada kata untuk kangen
yang paling kangen” sebuah lirik dari Sudjiwo tejo mengalun indah,mungkin benar
tak ada kata untuk mengungkapkan kangen yang paling kangen.Aku kangen
dia,Rahwana ku yang penuh perhatian dan manis,satu-satunya yang mampu
meluluhkan hati batu ini.Tak sadar sebutir bulir air bening turun dari kelopak mata
ku,cepat-cepat aku menghapusnya,tak ingin ia melihatnya,ia yang dari tadi
mengacuhkanku dan sibuk dengan dunia barunya.
2 minggu
disini terasa lama sekali,bagai 1000 tahun saja,aku ,aku mau pulang.Aku ingin
segera mengakhiri kegaluan ini,kembali seperti sebelum kami datang,hanya ada
aku tanpa gadis itu.Aku ingin kehangatan sinar matahari ku,untuk aku simpan
sendiri.Hanya aku.Serakah,biarlah.Aku mencintai dia. “Nis,ayo ikut
aku”.katanya sambil tergesa –gesa menarik tangan ku.”Iya,tapi mau kemana sih?”
Tanya ku penasaran.”Aku mau ngomong sama Nessa,kalau aku sayang sama dia,hari
ini kelas terakhir,besok dia pulang.Aku gak mau menyesal.” Jawabnya penuh
semangat dan mantap.Aku hanya diam,dadaku sesak,suaraku tercekat di kerongkongan tak
bisa keluar walau kupaksa ,hatiku sudah basah,kebas,mungkin sebentar lagi akan meledak ,keluar melalui kelopak
mataku.Hatiku
berontak tak mau ikut,tapi tubuhku bagai lemah tak berdaya mengikuti
tarikannya.Apakah hari ini aku akan benar-benar kehilangan sosok Rahwanaku yang dulu
begitu hangat?kelembutannya,kehangatannya,perhatian dan kasih sayangnya.
“Dric,disini” sapa seorang gadis anggun yang rupanya sudah
menunggu di pojokan Rumah makan Padang ini.”Teh,udah lama?maap nyuruh
kesini,ada hal penting yang mau aku omongin sama teteh,penting.”katanya,penuh
semangat .”Ada apasih,kayaknya penting
banget gitu?” tanyanya seperti biasa,lembut.Aku, aku hanya bisa diam,sekuat tenaga menahan air mata
di ujung kelopak agar tak tumpah,aku kaku diam seperti patung.Ingin sekali
kucakari wajih gadis di depanku ini,ia yang begitu hebatnya mencuri waktu
19 tahunku hanya
dalam waktu 2 minggu menyita seluruh perhatian Rahwanaku.”Maaf,maaf,Dric,aku
gak bisa,kamu
terlambat,aku sudah taken sama Eric beberapa hari yang lalu,maafin aku” katanya
sambil tertunduk.”Yaudah,gak apa teh,aku hargai keputusan teteh ,tapi teteh
harus tau,aku bakalan tetep nungguin teteh,aku sayang sama
teteh”katanya,tetep dengan penuh semangat meski habis mengalami
penolakan.Lihatlah sekarang bukan hanya sosoknya yang seperti Rahwana,tapi sikapnya juga,ia tetap kukuh
mencintai meski tau sang Dewi telah memilikinya Ramanya.
“So,mau tetep
nunggu dia?” Tanya ku penasaran dengan apa yang akan di ucapkan laki-laki di
depan ku ini,masih berharap ia akan merubah keputusannya.”Iya,aku bakal tetep
nungguin dia,dia pantas untuk diperjuangkan” katanya,tetap penuh dengan
semangat.”Kamu tahu bodoh, kita memang tak pernah bisa memilih pertemuan dan justru kadang malah dipaksa melepaskan
matahari,agar cinta dan perasaan yang sudah susah payah tumbuh tak terus
terbakar,hangus lalu musnah tanpa sisa,untuk sementara saja kita akan merasakan
pahitnya perpisahan sunyi,pergi dan hanya meninggalkan harapan dan
bayangan,hingga akhirnya benar-benar diakhiri dengan pelukan paling
manis.”Entah darimana asal kata-kata yang barusan saja aku ucapkan,tak pernah
terfikirkan sebelumya dan mengalir begitu saja bersama emosi yang
terkuras,kata-kata yang rasanya lebih pantas disematkan untuk diriku sendiri
daripada untuknya.Setidaknya ia telah memilih mengutarakan isi hatinya dari
pada harus terkubur dalam sedihnya jatuh cinta diam diam.”Bisa aja kamu,puitis
banget,sih.Ayo pulang”.Katanya,sambil mencubit hidungku.
#E
Tidak ada komentar:
Posting Komentar