Pages

Rabu, 18 Maret 2015

"Terbiasa Tanpamu"


 

Hujan turun sangat deras,sederas tangisku yang pecah diantara ribuan rintik hujan yang jatuh ditengah pemakaman siang itu. Perih, sampai-sampai rasanya ingin mati saat itu juga. Aku meratapi tulisan yang mengukir nama diatas batu nisan dihadapanku. Arya Aditya, nama yang punya makna sangat dalam dihatiku. Ini Tragedi! Bagaimana mungkin kamu yang berbaring di sini? Gak mungkin! "Arya.." aku mencoba memanggil namanya sambil menangis sesenggukan. "Arya.." tak ada yang menjawabku hanya terdengar suara hujan yang turun semakin deras. Dingin yang seakan membekukan tubuhku tak cukup membuatku enggan berlama-lama disini. Lukaku terlalu nyata "Arya.. Ini bukan kamu kan? Tolong bilang sama aku, ini bukan kamu! Please datanglah kesini dan katakan kalau yang terbaring di dalam sana bukan kamu !"

"Arya.. Arya maafin aku.. ARYA!!" aku mulai menangis semakin menjadi-jadi. Kutau aku terlihat bodoh. Bicara pada segundukan tanah yang bahkan tak mengerti apa yang kulakukan. Aku memang bodoh. Bodoh karena percaya pada kebohonganmu. Ingatanku kembali ke saat terakhir aku bertemu Arya. Sebulan yang lalu, sepulang mengajakku makan malam di acara grand opening sebuah cafe Arya tiba-tiba berubah jadi aneh. Kukira malam itu akan menjadi malam yang paling romantis bagi kami, namun ternyata dugaanku salah. Aku tak menyangka Arya mengajakku untuk putus stelah 3 tahun berpacaran. "Chel, kita putus ya?" ujarnya sedikit terbata, aku menangkap keraguan diantara nada bicaranya.

"apa?" balasku tak percaya

"kita putus ya?" kali ini dia bicara dengan tegas. Mendengar kalimat itu rasanya seperti jantungku tertusuk-tusuk.

"kamu bercanda kan?"

"enggak, aku akan tunangan dengan anak rekan kerja orang tuaku"

"apa?" aku hampir tak percaya sakit. Hanya itu yang kutau sekarang.

"maafin aku ya.." Arya menatapku sendu, tangannya mencoba meraih pergelangan tanganku namun aku menepisnya.

"di jodohin? Emang masih jaman? Lagian apa kamu juga bakal bahagia sama dia?"

"kamu tau aku nggak akan bisa menolak keinginan orang tuaku,Michella"

"tapi, .. Kamu serius mutusin aku setelah buat aku tersanjung dengan apa yang kamu lakukan hari ini?" mendengar penolakanku, Arya hanya bisa terdiam.

"kamu berniat mempermainkan perasaanku?" mataku kini mulai terasa berair namun Arya tetap membisu.

"kita udah pacaran 3 tahun dan orang tua kita udah sama-sama setuju kita pacaran Arya.. Kenapa sekarang tiba-tiba kayak gini?" tangisku pecah seketika di dalam mobil Arya yang mulai melaju menuju ke arah kediamanku. Arya memilih menutup mulutnya, tak membalas pernyataan maupun pertanyaanku. Sesampainya di depan rumahku, aku merasa sangat hancur, aku kecewa dan bahkan merasa tertipu. Arya seperti mempermainkanku. Mungkin beginilah yang dikatakan orang-orang, rasanya seperti terbang ke langit ke 7 lalu dihempaskan ke atas bumi begitu saja.

"kalau itu yang membuatmu bahagia, aku gak bisa menahanmu.. Semoga kamu bahagia"

Tanpa banyak bicara lagi, segera aku keluar dari mobilnya dan masuk ke rumah. Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, yang kudengar hanya "maafkan aku, aku sayang kamu chel.." suaranya terdengar lirih dan kalimat itu menyayat hatiku sekali lagi. Sejak saat itu aku tak pernah bertemu Arya, di kampus di manapun. Sedikit janggal karena biasanya kami selalu bersama. Kini dia seperti hilang di telan bumi, sebulan kemudian aku menerima kabar tentang Arya di telfon dari ibu Arya bahwa Arya meninggal karena Kanker Kelenjar Getah Bening. Mendengar berita itu denyut jantungku seakan berhenti. Wajahku memucat, mama yang sedari tadi sibuk tertawa dengan papa  jadi terheran-heran melihat perubahan ekspresiku saat menutup telfon.

"chel? Siapa?"

"kamu kenapa pucat gitu nak?" tanya papa, namun aku mematung sambil menggenggam telfon yang sudah terputus itu. Tanpa terasa air mataku menetes.

"Arya meninggal, pemakamannya... Besok.."

 

 

Pukul 11 upacara pemakaman Arya berakhir. Ada beberapa upacara pemakaman yang berlangsung disana hampir bersamaan. Sementara langit mulai mendung pertanda hujan akan segera turun. Aku melihat keluarga Arya sangat terpukul tapi seakan tegar melepaskan kepergian anak sulung keluarga Aditya. Aku mengambil langkah lebih dekat pada sosok wanita yang selama ini kukenal sebagai ibu Arya wanita itu menatapku sambil menyelipkan senyuman, " Arya berpesan bahwa dia benar-benar minta maaf untuk menyakiti Chela malam itu, Arya ingin chela bisa menjalani hidup lebih baik walaupun tidak bersamanya lagi. Chela harus baik-baik ya nak.. Tante juga selalu mendoakan Chela.."

"jadi.. Jadi Arya memang sudah tau dia sakit sejak awal? Tante juga?"

Wanita itu lagi-lagi hanya tersenyum lirih. Aku mengerti maksudnya. Satu persatu orang meninggalkan pemakaman itu, hanya aku yang tersisa. Aku dan kesedihan yang tidak pernah kubayangkan akan menghampiriku disaat seperti ini. Orang yang kucintai pergi selamanya. Aku menangis bersamaan dengan hujan yang turun sangat deras. Dua jam aku berada di sana, menangis dan bicara entah pada siapa. Aku hanya tak tau bagaimana meluapkan kesedihanku. Tanpa sadar ada seorang laki-laki yang mengamatiku sedari tadi. Melihatku basah kuyub ditengah hujan yang deras itu dia menghampiriku sambil membawa sebuah payung hitam besar yang cukup meneduhkan kami dari air hujan.

"sudah lama kamu kehujanan.. Mau sampai kapan?" tanyanya. Aku menatapnya masih sambil terisak. Sinar matanya meneduhkan, ada seulas senyum disana meski lebih dominan raut kesedihan yang membingkai rahang tegasnya. Pakaiannya serba hitam, sepertinya dia juga habis mengikuti upacara pemakaman.

"aku masih ingin disini" jawabku singkat

"sudahlah, menangis juga ada batasnya" ujarnya sambil mencoba membantuku berdiri. Kami akhirnya keluar dari pemakaman dan berteduh di sebuah warung kecil di dekat situ. Dia meminjamkanku jaketnya. Sungguh pengertian.

"di mana rumahmu?" tanya laki-laki itu sambil menyodorkan segelas teh hangat yang telah dipesannya.

"Taman Indah"

"kehilangan itu memang menyakitkan, apalagi kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi hidup kita.."

"kehilangan siapa?"

"ibuku.." sejenak aku terdiam.

"aku turut berduka.."

"aku juga turut berduka untuk kekasihmu" ujarnya tulus.

"berhentilah menangis, wajahmu lebih pantas tersenyum.."

Aku tersenyum kecut mendengar pernyataan yang keluar dari laki-laki di hadapanku ini. Meskipun kami tak saling kenal tapi pembicaraan kami saling nyambung satu sama lain membuat percakapan itu terasa menyenangkan. Senja sudah mulai terlihat kemerahan, dia mengantarku pulang. Sejak hari itu kami jadi teman akrab. Namanya Dhimas, ternyata rumah kami hanya berbeda beberapa blok saja. Kami mulai saling berbagi cerita, menghabiskan waktu bersama. Dhimas seakan mengajariku untuk terbiasa pada luka dan menghargai setiap waktu yang kumiliki. Dia mengajariku cara untuk mengatasi rasa sedih dengan berbagai cara mulai dari makan coklat, berolah raga, pergi karaoke, berenang ,bahkan kali ini dia mengajakku membaca buku di atas pohon.

"apa!!? Di atas pohon?"

"iya.. Kamu harus coba! Ini mengasyikan tau"

Aku mengangguk mengiyakan, sepertinya itu ide gila yang bagus.Perlahan aku mulai menyukai sosok Dhimas yang mampu mengisi kekosonganku saat duka karena kehilangan Arya begitu menyelimuti hatiku. Setidaknya melakukan berbagai aktifitas membuatku sejenak bisa melupakan Arya-lebih tepatnya membiasakan diri tanpa sosok Arya dihidupku lagi.

 

Berbulan-bulan berlalu dan kami semakin dekat saja, aku semakin tau banyak hal tentang Dhimas, kami saling berbagi cerita. Yang membuatku akhirnya tau belakangan bahwa di hari yang sama saat Arya dimakamkan, saat itu juga adalah hari pemakaman ibu Dhimas yang meninggal karena kanker. Satu lagi kesamaan yang menyedihkan dari kami berdua. Ditengah kedekatan kami itu aku merasa Dhimas sangat memberi perhatian lebih padaku. Dari caranya bertutur kata, bahasa tubuhnya menunjukan ada sebuah perasaan yang diselipkan untukku.sayangnya sampai saat ini Dhimas tak pernah mengatakan apapun tentang gadis yang disukainya, ia juga tak pernah bercerita ataupun mengenalkanku pada kekasihnya. Diam-diam aku menyimpan perasaan yang lebih pada Dhimas, perlahan sosoknya mampu menggantikan Arya. Dan aku mulai terbiasa bersamanya. Sayangnya aku tak pernah menduga, bahwa poros hidupku ini terlalu sempit. Aku kehilangan orang yang kucintai sekali lagi, namun kali ini lebih cepat walaupun kenangan yang dia tinggalkan begitu banyak.

Di bulan November 2014, tepat satu tahun kepergian Arya, Dhimas meninggalkanku karena penyakit kanker yang dibawanya sejak lahir dari ibunya. Beberapa bulan sebelumnya kami sering bolak-balik rumah sakit untuk mengecek perkembangan kesehatan Dhimas. Aku menyarankannya untuk ikut kemoterapi, tapi ia menolak. Dengan alasan yang bagiku terdengar pasrah.

"waktu selalu benar. Batas itu diciptakan untuk dilampaui, namun terkadang waktu akan memenangkan semuanya. Hidup manusia juga pada akhirnya akan terkalahkan oleh waktu.. Biar saja begini, yang penting aku masih bisa bersamamu"

 kalimat-kalimatnya itu bagiku sangat dalam.

Ingin rasanya aku memeluknya erat dan memohon pada Tuhan untuk membuatnya bisa terus bersamaku. Sayangnya aku tak pernah bisa. Beberapa minggu kemudian Dhimas menghembuskan nafas terakhirnya tepat di pangkuanku, saat dia sedang terbaring diatas pangkuanku. Aku hanya bisa memandang wajah pucatnya yang kurus sambil menangis dalam diamku.

Kali ini yang pergi telah membuatku terbiasa. Setidaknya aku akan melakukan hal yang sama seperti yang pernah kulakukan dulu untuk melupakan Arya. Aku mungkin akan mengingatmu, akan slalu mengingatmu. Luka akan menyayati hatiku sekali lagi,lagi dan lagi tapi aku akan bisa bertahan,karenamu. Terimakasih untuk mengajariku arti sebuah luka, terimakasih untuk menjadi arti di hidupku.

"Semoga kau tenang disana Dhimas,Aku mencintaimu.."

 

 #A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik