Hujan
turun sangat deras,sederas tangisku yang pecah diantara ribuan rintik hujan
yang jatuh ditengah pemakaman siang itu. Perih, sampai-sampai rasanya ingin
mati saat itu juga. Aku meratapi tulisan yang mengukir nama diatas batu nisan
dihadapanku. Arya Aditya, nama yang punya makna sangat dalam dihatiku. Ini
Tragedi! Bagaimana mungkin kamu yang berbaring di sini? Gak mungkin!
"Arya.." aku mencoba memanggil namanya sambil menangis sesenggukan.
"Arya.." tak ada yang menjawabku hanya terdengar suara hujan yang
turun semakin deras. Dingin yang seakan membekukan tubuhku tak cukup membuatku
enggan berlama-lama disini. Lukaku terlalu nyata "Arya.. Ini bukan kamu
kan? Tolong bilang sama aku, ini bukan kamu! Please datanglah kesini dan
katakan kalau yang terbaring di dalam sana bukan kamu !"
"Arya..
Arya maafin aku.. ARYA!!" aku mulai menangis semakin menjadi-jadi. Kutau
aku terlihat bodoh. Bicara pada segundukan tanah yang bahkan tak mengerti apa
yang kulakukan. Aku memang bodoh. Bodoh karena percaya pada kebohonganmu.
Ingatanku kembali ke saat terakhir aku bertemu Arya. Sebulan yang lalu,
sepulang mengajakku makan malam di acara grand opening sebuah cafe Arya
tiba-tiba berubah jadi aneh. Kukira malam itu akan menjadi malam yang paling
romantis bagi kami, namun ternyata dugaanku salah. Aku tak menyangka Arya
mengajakku untuk putus stelah 3 tahun berpacaran. "Chel, kita putus
ya?" ujarnya sedikit terbata, aku menangkap keraguan diantara nada
bicaranya.
"apa?"
balasku tak percaya
"kita
putus ya?" kali ini dia bicara dengan tegas. Mendengar kalimat itu rasanya
seperti jantungku tertusuk-tusuk.
"kamu
bercanda kan?"
"enggak,
aku akan tunangan dengan anak rekan kerja orang tuaku"
"apa?"
aku hampir tak percaya sakit. Hanya itu yang kutau sekarang.
"maafin
aku ya.." Arya menatapku sendu, tangannya mencoba meraih pergelangan
tanganku namun aku menepisnya.
"di
jodohin? Emang masih jaman? Lagian apa kamu juga bakal bahagia sama dia?"
"kamu
tau aku nggak akan bisa menolak keinginan orang tuaku,Michella"
"tapi,
.. Kamu serius mutusin aku setelah buat aku tersanjung dengan apa yang kamu
lakukan hari ini?" mendengar penolakanku, Arya hanya bisa terdiam.
"kamu
berniat mempermainkan perasaanku?" mataku kini mulai terasa berair namun
Arya tetap membisu.
"kita
udah pacaran 3 tahun dan orang tua kita udah sama-sama setuju kita pacaran
Arya.. Kenapa sekarang tiba-tiba kayak gini?" tangisku pecah seketika di
dalam mobil Arya yang mulai melaju menuju ke arah kediamanku. Arya memilih
menutup mulutnya, tak membalas pernyataan maupun pertanyaanku. Sesampainya di
depan rumahku, aku merasa sangat hancur, aku kecewa dan bahkan merasa tertipu.
Arya seperti mempermainkanku. Mungkin beginilah yang dikatakan orang-orang,
rasanya seperti terbang ke langit ke 7 lalu dihempaskan ke atas bumi begitu
saja.
"kalau
itu yang membuatmu bahagia, aku gak bisa menahanmu.. Semoga kamu bahagia"
Tanpa
banyak bicara lagi, segera aku keluar dari mobilnya dan masuk ke rumah. Aku
tidak sanggup menatap matanya lagi, yang kudengar hanya "maafkan aku, aku
sayang kamu chel.." suaranya terdengar lirih dan kalimat itu menyayat
hatiku sekali lagi. Sejak saat itu aku tak pernah bertemu Arya, di kampus di
manapun. Sedikit janggal karena biasanya kami selalu bersama. Kini dia seperti
hilang di telan bumi, sebulan kemudian aku menerima kabar tentang Arya di
telfon dari ibu Arya bahwa Arya meninggal karena Kanker Kelenjar Getah Bening.
Mendengar berita itu denyut jantungku seakan berhenti. Wajahku memucat, mama
yang sedari tadi sibuk tertawa dengan papa
jadi terheran-heran melihat perubahan ekspresiku saat menutup telfon.
"chel?
Siapa?"
"kamu
kenapa pucat gitu nak?" tanya papa, namun aku mematung sambil menggenggam
telfon yang sudah terputus itu. Tanpa terasa air mataku menetes.
"Arya
meninggal, pemakamannya... Besok.."
Pukul
11 upacara pemakaman Arya berakhir. Ada beberapa upacara pemakaman yang
berlangsung disana hampir bersamaan. Sementara langit mulai mendung pertanda
hujan akan segera turun. Aku melihat keluarga Arya sangat terpukul tapi seakan
tegar melepaskan kepergian anak sulung keluarga Aditya. Aku mengambil langkah
lebih dekat pada sosok wanita yang selama ini kukenal sebagai ibu Arya wanita
itu menatapku sambil menyelipkan senyuman, " Arya berpesan bahwa dia
benar-benar minta maaf untuk menyakiti Chela malam itu, Arya ingin chela bisa
menjalani hidup lebih baik walaupun tidak bersamanya lagi. Chela harus
baik-baik ya nak.. Tante juga selalu mendoakan Chela.."
"jadi..
Jadi Arya memang sudah tau dia sakit sejak awal? Tante juga?"
Wanita
itu lagi-lagi hanya tersenyum lirih. Aku mengerti maksudnya. Satu persatu orang
meninggalkan pemakaman itu, hanya aku yang tersisa. Aku dan kesedihan yang
tidak pernah kubayangkan akan menghampiriku disaat seperti ini. Orang yang
kucintai pergi selamanya. Aku menangis bersamaan dengan hujan yang turun sangat
deras. Dua jam aku berada di sana, menangis dan bicara entah pada siapa. Aku
hanya tak tau bagaimana meluapkan kesedihanku. Tanpa sadar ada seorang
laki-laki yang mengamatiku sedari tadi. Melihatku basah kuyub ditengah hujan
yang deras itu dia menghampiriku sambil membawa sebuah payung hitam besar yang
cukup meneduhkan kami dari air hujan.
"sudah
lama kamu kehujanan.. Mau sampai kapan?" tanyanya. Aku menatapnya masih
sambil terisak. Sinar matanya meneduhkan, ada seulas senyum disana meski lebih
dominan raut kesedihan yang membingkai rahang tegasnya. Pakaiannya serba hitam,
sepertinya dia juga habis mengikuti upacara pemakaman.
"aku
masih ingin disini" jawabku singkat
"sudahlah,
menangis juga ada batasnya" ujarnya sambil mencoba membantuku berdiri.
Kami akhirnya keluar dari pemakaman dan berteduh di sebuah warung kecil di
dekat situ. Dia meminjamkanku jaketnya. Sungguh pengertian.
"di
mana rumahmu?" tanya laki-laki itu sambil menyodorkan segelas teh hangat
yang telah dipesannya.
"Taman
Indah"
"kehilangan
itu memang menyakitkan, apalagi kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi
hidup kita.."
"kehilangan
siapa?"
"ibuku.."
sejenak aku terdiam.
"aku
turut berduka.."
"aku
juga turut berduka untuk kekasihmu" ujarnya tulus.
"berhentilah
menangis, wajahmu lebih pantas tersenyum.."
Aku
tersenyum kecut mendengar pernyataan yang keluar dari laki-laki di hadapanku
ini. Meskipun kami tak saling kenal tapi pembicaraan kami saling nyambung satu
sama lain membuat percakapan itu terasa menyenangkan. Senja sudah mulai
terlihat kemerahan, dia mengantarku pulang. Sejak hari itu kami jadi teman
akrab. Namanya Dhimas, ternyata rumah kami hanya berbeda beberapa blok saja.
Kami mulai saling berbagi cerita, menghabiskan waktu bersama. Dhimas seakan
mengajariku untuk terbiasa pada luka dan menghargai setiap waktu yang kumiliki.
Dia mengajariku cara untuk mengatasi rasa sedih dengan berbagai cara mulai dari
makan coklat, berolah raga, pergi karaoke, berenang ,bahkan kali ini dia
mengajakku membaca buku di atas pohon.
"apa!!?
Di atas pohon?"
"iya..
Kamu harus coba! Ini mengasyikan tau"
Aku
mengangguk mengiyakan, sepertinya itu ide gila yang bagus.Perlahan aku mulai
menyukai sosok Dhimas yang mampu mengisi kekosonganku saat duka karena
kehilangan Arya begitu menyelimuti hatiku. Setidaknya melakukan berbagai
aktifitas membuatku sejenak bisa melupakan Arya-lebih tepatnya membiasakan diri
tanpa sosok Arya dihidupku lagi.
Berbulan-bulan
berlalu dan kami semakin dekat saja, aku semakin tau banyak hal tentang Dhimas,
kami saling berbagi cerita. Yang membuatku akhirnya tau belakangan bahwa di
hari yang sama saat Arya dimakamkan, saat itu juga adalah hari pemakaman ibu
Dhimas yang meninggal karena kanker. Satu lagi kesamaan yang menyedihkan dari
kami berdua. Ditengah kedekatan kami itu aku merasa Dhimas sangat memberi
perhatian lebih padaku. Dari caranya bertutur kata, bahasa tubuhnya menunjukan
ada sebuah perasaan yang diselipkan untukku.sayangnya sampai saat ini Dhimas
tak pernah mengatakan apapun tentang gadis yang disukainya, ia juga tak pernah
bercerita ataupun mengenalkanku pada kekasihnya. Diam-diam aku menyimpan
perasaan yang lebih pada Dhimas, perlahan sosoknya mampu menggantikan Arya. Dan
aku mulai terbiasa bersamanya. Sayangnya aku tak pernah menduga, bahwa poros
hidupku ini terlalu sempit. Aku kehilangan orang yang kucintai sekali lagi,
namun kali ini lebih cepat walaupun kenangan yang dia tinggalkan begitu banyak.
Di
bulan November 2014, tepat satu tahun kepergian Arya, Dhimas meninggalkanku
karena penyakit kanker yang dibawanya sejak lahir dari ibunya. Beberapa bulan
sebelumnya kami sering bolak-balik rumah sakit untuk mengecek perkembangan
kesehatan Dhimas. Aku menyarankannya untuk ikut kemoterapi, tapi ia menolak.
Dengan alasan yang bagiku terdengar pasrah.
"waktu
selalu benar. Batas itu diciptakan untuk dilampaui, namun terkadang waktu akan
memenangkan semuanya. Hidup manusia juga pada akhirnya akan terkalahkan oleh
waktu.. Biar saja begini, yang penting aku masih bisa bersamamu"
kalimat-kalimatnya itu bagiku sangat dalam.
Ingin
rasanya aku memeluknya erat dan memohon pada Tuhan untuk membuatnya bisa terus
bersamaku. Sayangnya aku tak pernah bisa. Beberapa minggu kemudian Dhimas
menghembuskan nafas terakhirnya tepat di pangkuanku, saat dia sedang terbaring
diatas pangkuanku. Aku hanya bisa memandang wajah pucatnya yang kurus sambil
menangis dalam diamku.
Kali
ini yang pergi telah membuatku terbiasa. Setidaknya aku akan melakukan hal yang
sama seperti yang pernah kulakukan dulu untuk melupakan Arya. Aku mungkin akan
mengingatmu, akan slalu mengingatmu. Luka akan menyayati hatiku sekali
lagi,lagi dan lagi tapi aku akan bisa bertahan,karenamu. Terimakasih untuk
mengajariku arti sebuah luka, terimakasih untuk menjadi arti di hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar