Pages

Sabtu, 09 Mei 2015

Melati Di Kala Senja

Untuk melatiku yang putih, kecil dan wangi. Yang kutemukan diantara baris-baris sajak senjaku setahun lalu. Tetaplah tegar dan mewangi, meski belukar berduri mengejek engkau tak secantik mawar atau seanggun anggrek. Dengarlah, mawar dan anggrek tak bisa hidup diantara himpitan belukar berduri tapi kamu yang kecil dan lemah mampu bertahan tetap hidup, tetap tegar dan senantiasa mewangi. Lebih cantik. Lebih anggun saat senja yang jingga berpadu dengan kulitmu yang putih. Aku mencintaimu, sampai nanti akan tetap mencintaimu. Temani aku hingga senjaku berlalu malam. Tua dan layu bersama. #E

Walau Hanya Untuk Sedetik

Setahun sudah berlalu sejak roda nasib membawamu pergi dariku. Tapi, aku masih tetap saja berada di waktu itu. Tak bergerak, tak pernah beranjak. Tersesat dan terjebak dalam lingkaran lingkaran bulat gelembung kenangan. Belajar untuk tetap baik-baik saja. Menepis segala luka, perih seakan tak pernah ada. Tertawa bersama dunia yang sejatinya menertawakan betapa tebal topengku. Setahun dalam kebohongan begitu banyak juga cinta yang datang dan pergi. Tapi tak ada yang berarti. Tak berasa. Hambar. Terlalu besar mungkin rasaku untukmu hingga mereka tampak hanya seperti bui yang menguap bersama panas. Setahun itu pula nasib tak menginjinkan aku mendengar walau hanya sebaris kata-katamu. Hanya alunan doa saja yang tak pernah putus berharap sedikit kebaikan Tuhan mau mengantarnya ke hatimu. Tuhan, walau hanya sedetik aku ingin bebas menjadi awan. Merasakan ketegarannya yang begitu setia menunggu hujan turun. Lalu tetap setia menjadi awan menunggu hujan yang mengembara di Bumi meninggalkannya sendirian di atas. #E

Kamis, 07 Mei 2015

Sunyaruri(Bagian 1)

Hampir 5 jam sudah aku berada di tempat ini. Sejak baru dibuka tadi. Aku yang pertama. Selalu yang pertama sejak sebulanan terakhir. Aku suka tempat ini, selalu suka. Aku bisa sendirian, berjam-jam menatap kosong jauh keluar dari sudut kaca bening di sudut ruang. Bersama bau yang begitu khas, yang mungkin kalian orang-orang normal akan benci. Bau buku-buku tua yang bertakhta rapi di rak yang juga tak kalah tuanya. Tunggu, tadi aku berkata kalian adalah orang-orang normal, kan? Lalu, apa itu berarti aku tidak normal? Oh, tidak, tunggu, jangan gegabah berspekulasi. Aku sama seperti kalian. Manusia biasa, punya tubuh sempurna, lalu? Ya, hanya sedikit berbeda mungkin. Begini, biar kuberi contoh. Misalnya seseorang yang tidak kalian kenal tiba-tiba saja datang dan memukul wajah kalian. Mungkin saat itu juga amarah kalian akan meledak dan balik memukul. Tapi, aku tidak. Apa itu karena aku terlalu baik? Tunggu, kuberi contoh lagi. Suatu hari kalian berulang tahun, lalu orang tua kalian membuatkan suatu pesta yang meriah dan memberi kalian hadiah yang kalian inginkan misalnya. Mungkin kalian akan berteriak teriak bahagia bahkan mungkin sampai menangis. Tapi, aku tidak. Sudah mulai paham? Ah, mungkin aku terlalu bertele-tele. Begini saja, simpelnya. Aku tak bisa menunjukan emosi. Ya, tak bisa menunjukan bahwa aku marah, senang, bahagia, sedih atau sakit. Segalanya tampak datar. Biasa, tak ada perbedaan. Sakit? Tidak, aku tidak sakit. Aku bukan pengidap "Alexitimia". Mungkin saja disebabkan trauma masa lalu. Aku punya teman, punya orang tua, juga punya saudara. Hanya, aku tak pernah butuh mereka. Aku tak pernah menggangap mereka penting bahkan ada. Aku hidup di duniaku sendiri. Dunia yang membuatku merasa aman, nyaman, tak pernah takut seperti jika aku berada di dunia kalian. Hanya aku sendirian. Tidak ramai seperti dunia kalian. Yang membuatku menggigil ketakutan saat berada diantaranya. Sampai kamu datang dan memaksaku keluar. Setahun lalu, seperti biasa aku sedang berada di tempat ini. Menatap kosong jauh keluar dinding kaca. Sendirian, begitu khusyuk. "Brukk..." "auww". Ritualku buyar. Beberapa langkah dari tempatku berdiri seorang gadis tampak sedang kesulitan berdiri. Rupanya ia terpeleset dan jatuh. Ia tampak bersusah payah berdiri. Ia tak berusaha meminta pertolongan. Mungkin tahu, saat menginjakan kaki di tempat ini semua akan masuk ke dunianya masing-masing tak akan lagi perduli pada hal-hal disekitarnya. Pun aku hanya mengamati, ia masih sulit berdiri. Berusaha bertumpu pada tongkatnya. Sepertinya kakinya lumpuh... Bersambung

Selasa, 05 Mei 2015

Biar Aku Jadi Awan(Part 2)

Waktu bergulir begitu cepatnya. Terlalu cepat kurasa. Rasanya kemarin aku dan kamu masih seorang bayi yang begitu asyik bermain tanpa memikirkan masalah masalah dunia yang tak pernah ada habisnya. Hemm...setiap mengingatnya aku selalu tertawa. Tapi dunia terus berputar ya, kita tak bisa tetap hanya jadi bayi yang sibuk bermain. SD, SMP, sekarang kita sudah SMA. Kamu tumbuh jadi gadis tangguh, sahabat yang terbaik, pelindung yang selalu dapat aku andalkan. Melindungiku yang takut berhadapan dengan dunia. Aku yang lemah, yang memilih hidup mengasingkan diri dari pergaulan. Kamu yang tak pernah lelah mengajariku jadi kuat sepertimu. Berani, tegar menantang dunia. Aku mencintaimu sebagai sahabat. Kamu yang kupanggil kijang karna berbadan ramping tapi begitu lincah dan kamu yang selalu menyebutku kura-kura lambat dan selalu bersembunyi dalam tempurungku..hehee. Tapi, seiring waktu yang bergulir kenyataan pun mengucap sabdanya. Perasaanku tumbuh, aku pun hampir tak menyadarinya. Malam itu, ya, aku masih ingat. Terjadi begitu saja. Sakit yang tiba-tiba saat kamu memperkenalkan dia. "Hee..kura-kura, sini kenalin, Edric pacar gue" katamu. Aku terperanjat, entah datangnya darimana amarahku yang tiba-tiba itu. "Nama gue Nessa!!, bukan kura-kura" kataku dengan nada tinggi. Kamu terperanjat. Selama ini aku belum pernah membentakmu. Bersambung...

Minggu, 03 Mei 2015

Pertemuan Yang Salah

Pernah tidak kalian berfikir, tidak selalu tapi mungkin pernah. Tentang setiap hal yang terjadi di kehidupan kita. Yang kadang kadang apa yang tidak kita harapkan justru sering menjadi nyata ketimbang apa yang kita harapkan. Pertemuan misalnya, seperti aku juga. Bertemu dia mungkin, ya, di waktu yang salah. Pertemuan singkat yang tak lebih dari beberapa jam saja namun mampu memaksaku untuk terus masuk menerjang segala resiko. Saat aku tak sengaja masuk di hidupmu yang saat itu telah berdua. Kubilang aku mau jadi sahabatmu kan? Hee.. Kenyataan yang terjadi tak begitu. Perasaan ini hidup, tumbuh dan mengharap lebih. Suatu hari entah apa sebabnya kamu dan dia akhirnya memutuskan menyudahi apa yang sudah kalian bangun. Aku senang sekaligus sedih. Berfikir apa ini salahku? Waktu terus berjalan. Tapi kita tetap seperti ini, tetap dalam ikatan persahabatan tak lebih. Akupun tak mau meminta lebih, takut akan merusak lagi semuanya. Meski sebenarnya kamu tahu perasaanku kan? Tapi aku tak pernah tahu seperti apa rasamu. Biar saja lebih baik aku tak tahu untuk sekarang, mungkin juga nanti tak perlu tahu. Jika bagimu ternyata aku hanyalah segumpal awan yang hadirnya hanya boleh sementara. Maka biarlah. Aku pergi. Menunggu hujan yang berikutnya. Senin, 04-05-2015, Ditulis saat hujan sedang turun #E

Biar Aku Jadi Awan(Part 1)

20 tahun sudah kita melangkah di Bumi. Menjelajah, menelusuri, mencari apa sebenernya tujuan kita berada disini. Tapi, bukan itu yang mau aku bahas. Bukan, bukan tentang pencarian jati diri aku atau kamu. Aku hanya mengenang tentang rencana atau kebetulan yang memang mungkin sudah dipersiapkan dari sejak semula. Ya, tepatnya aku sedang membahas tentang kita. Aku dan kamu. Kita lahir pada hari yang sama, tanggal yang sama, di jam yang hampir sama pula. Hanya aku lebih cepat 1 jam, seingatku. Tidak, kita bukan saudara atau keluarga. Kita 2 manusia yang dipertemukan takdir mungkin. Setelah itu secara ajaib takdir memainkan perannya. Aku dan kamu tumbuh besar bersama. Kamu yang seorang ekstrovert tumbuh menjadi wanita periang dengan segudang teman. Aku, aku kebalikannya. Seorang introvert stadium akhir yang hanya punya kamu sebagai sahabat. Lemah, kuper, tersisihkan dari dunia. Tapi, si kuper ini menyimpan sesuatu. Ya, sesuatu yang tak kusangka begitu berpengaruh untuk kita beberapa tahun ke depan. Bersambung... #E

Jumat, 01 Mei 2015

Setegar Senja

Senja kita berganti. Puluhan, ratusan mungkin telah datang saling silih. Memoriku bergolak. Melintas kembali pada satu masa. Hari itu, waktu itu, ya, senja itu. Kali pertama aku mengajarimu bagaimana menimati 10 detik hitung mundurnya. 10 detik yang memalingkan ku darinya. 10 detik senjaku yang berganti menatap terpanah pipimu yang berubah merah merona. Hari itu, waktu itu. Senja itu. Kita telah jatuh cinta. Waktu bergulir begitu cepat, kurasa. Memaksa kita harus bertaruh segalanya dalam jarak. Aku di sini, kamu di sana. Terpisah ratusan kilometer. Puluhan kota yang merentang, bahkan laut yang terlihat semakin angkuh. Memaksa kita harus tegar menikmati senja kita masing-masing. Senja akan terus bergulir , terbit dan tenggelam. Aku berubah, kamu berubah, senja kita pun berubah. Kita kalah, jarak merenggut segalanya yang kita pertaruhkan. Hilang semua janji, mimpi yang kita gantung di langit yang begitu jingga. Melati kita yang tumbuh di kala senja pun telah mati termakan ilalang. Kudengar kamu tak lagi sendiri menghitung mundur 10 detik senjamu. Sudah ada dia, yang begitu erat menggengam erat jemarimu, hingga kamu pun mungkin enggan berpaling lagi. Aku tak akan bersedih, kekasih. Aku akan tegar. Seperti senja kita, yang jadi bayang di antara siang dan malam. Hanya sesaat namun amat kita rindukan. Aku akan jalan lagi. Menemukan senja ku sendiri. Kali ini, nyawaku akan menjaganya. #E
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik