Pages

Jumat, 01 Mei 2015

Setegar Senja

Senja kita berganti. Puluhan, ratusan mungkin telah datang saling silih. Memoriku bergolak. Melintas kembali pada satu masa. Hari itu, waktu itu, ya, senja itu. Kali pertama aku mengajarimu bagaimana menimati 10 detik hitung mundurnya. 10 detik yang memalingkan ku darinya. 10 detik senjaku yang berganti menatap terpanah pipimu yang berubah merah merona. Hari itu, waktu itu. Senja itu. Kita telah jatuh cinta. Waktu bergulir begitu cepat, kurasa. Memaksa kita harus bertaruh segalanya dalam jarak. Aku di sini, kamu di sana. Terpisah ratusan kilometer. Puluhan kota yang merentang, bahkan laut yang terlihat semakin angkuh. Memaksa kita harus tegar menikmati senja kita masing-masing. Senja akan terus bergulir , terbit dan tenggelam. Aku berubah, kamu berubah, senja kita pun berubah. Kita kalah, jarak merenggut segalanya yang kita pertaruhkan. Hilang semua janji, mimpi yang kita gantung di langit yang begitu jingga. Melati kita yang tumbuh di kala senja pun telah mati termakan ilalang. Kudengar kamu tak lagi sendiri menghitung mundur 10 detik senjamu. Sudah ada dia, yang begitu erat menggengam erat jemarimu, hingga kamu pun mungkin enggan berpaling lagi. Aku tak akan bersedih, kekasih. Aku akan tegar. Seperti senja kita, yang jadi bayang di antara siang dan malam. Hanya sesaat namun amat kita rindukan. Aku akan jalan lagi. Menemukan senja ku sendiri. Kali ini, nyawaku akan menjaganya. #E

4 komentar:

  1. Terima kasih :') ikuti cerita cerita berikutnya ya :')

    BalasHapus
  2. menyentuh.. benar, jalan lagi adalah jalan yang terbaik, siapa tau nanti bertemu orang yang akan menemani menikmati senja.. btw, ini fiksi atau nyata?

    salam kenal..

    BalasHapus
  3. Terima kasih :) entah... Bagiku ia bisa fiksi bisa pula sesuatu yang nyata. Kadang tak nampak bedanya :') baca yang lain juga yaa..hehee :D

    BalasHapus

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik