Pages

Senin, 24 Agustus 2015

Bulan Di Langit Pagi Bagian 1 ( Namanya Zahra)

Saat hati telah menjadi teramat lelah. Mungkin, kepentingan duniawi sudah terlalu menyesakkan dada, sedang naluri ruhiyah sudah terlalu lapar dan meminta disegerakan atas pemenuhan haknya.

 " Kepada pagi yang lebih pekat dari malam, yang meneteskan rintik-rintik air langit. Ku isyaratkan senyum dan haru. Kupeluk melatiku. Yang mati di lembah madu". Pagi bergulir setelah masa panjang 24 jam terlewati. Menyibak tirai-tirai gelap. Membuka tabir, memutar roda kehidupan sekali lagi. Membawa harapan bagi mereka yang gagal di pagi sebelumnya. Bagi mereka, tidak bagiku. Diantara waktu 24 jam yang bergulir, aku selalu membenci pagi. Bagiku, ia penipu yang lebih ulung dari malam. Membawa harapan, khayalan, impian yang semu. Pagi, aku selalu benci".

    Suasana masih begitu pagi waktu itu, burung-burung di samping jendela pun masih enggan berkicau. Pagi itu menjadi pagi yang benar-benar tidak akan pernah terlupakan, pagi yang sangat mengerikan, aku percaya tidak ada satu orang pun dari kalian yang menginginkan kejadian memilukan seperti apa yang sedang terjadi pada Zahra dan adiknya, Azis. Kedua mata mereka yang kecil dan masih teramat polos dipaksa harus menyaksikan pertengkaran ibu dan ayahnya. Suasana Rumah mewah dan kokoh di pinggiran kota Bogor itu tampak mencekam, diliputi oleh amarah yang menggeledak.

  Kata ‘Poligami’ yang dari tadi terus keluar dari mulut malaikat bernama ibu yang biasanya selalu penuh dengan ketulusan dan kasih sayang. Hari itu, ibu berubah menjadi seseorang yang tidak Zahra kenali lagi. Segala kata-kata yang tidak pantas didengar oleh Zahra kecil dan adiknya terucap dari bibir malaikat Zahra itu. Ayah hanya terdiam, tak mampu berucap sepatah katapun. Zahra kecil benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi, padahal kemarin Ibu dan ayah masih terlihat baik-baik saja. Yang ia tahu ia marah pada ibunya saat ini, ia marah karna ibu memarahi ayahnya seperti itu. Zahra kecil begitu ingin berlari dan menghentikan ibu memarahi ayah, tetapi, hanya dengan melihat raut wajah dan mata ibu yang begitu merah seperti ada api di dalamnya sudah cukup membuat Zahra gentar dan mengurungkan niatnya.

  "Kak, Aziz takut. Kok ibu jadi serem, ya, kak? Ibu sama ayah kenapa, kak?". "Kakak juga gak tahu, dik, kita berdoa aja, ya, biar ibu cepet berhenti marah-marah sama ayah". "Pergi kamu!!! Pergi!!! Bersama perempuanmu yang kotor dan murahan itu!!! Daripada aku kamu madu, lebih baik kita cerai. Pergi!!!". Hari itu, ibu mengusir ayah dan memutuskan berpisah. Ayah lebih memilih bersama pacarnya daripada keluarganya sendiri. Cinta sesaat membuat ayah gelap mata dan menghancurkan keluarga yang sudah sekian lama dibangunnya. Ibu dan Ayah akhirnya benar-benar berpisah dan hak asuh anak jatuh ketangan ibu dengan alasan Zahra dan Aziz masih teramat kecil untuk memilih ingin ikut dengan siapa. Sejak itu Zahra kehilangan kasih sayang seorang ayah. Sejak berpisah, tak pernah lagi Zahra melihat ayahnya datang atau sekedar mendengar kabarnya. Seakan akan ayah hilang ditelan Bumi. Ibu berusaha membuat Zahra kecil dan adiknya yang masih begitu polos untuk paham dan mengerti apa yang sudah terjadi.

  Zahra yang polos itu dituntut harus paham peristiwa yang menimpa keluarga mereka. Di dalam hati kecilnya Zahra kecil berjanji, bersumpah kelak ia dan adiknya , bahwa keturunannya nanti tidak akan pernah merasakan apa yang kini dialami keluarganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik