Waktu bergulir begitu cepatnya. Terlalu cepat kurasa. Rasanya kemarin aku dan kamu masih seorang bayi yang begitu asyik bermain tanpa memikirkan masalah masalah dunia yang tak pernah ada habisnya. Hemm...setiap mengingatnya aku selalu tertawa. Tapi dunia terus berputar ya, kita tak bisa tetap hanya jadi bayi yang sibuk bermain. SD, SMP, sekarang kita sudah SMA. Kamu tumbuh jadi gadis tangguh, sahabat yang terbaik, pelindung yang selalu dapat aku andalkan. Melindungiku yang takut berhadapan dengan dunia. Aku yang lemah, yang memilih hidup mengasingkan diri dari pergaulan. Kamu yang tak pernah lelah mengajariku jadi kuat sepertimu. Berani, tegar menantang dunia. Aku mencintaimu sebagai sahabat. Kamu yang kupanggil kijang karna berbadan ramping tapi begitu lincah dan kamu yang selalu menyebutku kura-kura lambat dan selalu bersembunyi dalam tempurungku..hehee. Tapi, seiring waktu yang bergulir kenyataan pun mengucap sabdanya. Perasaanku tumbuh, aku pun hampir tak menyadarinya. Malam itu, ya, aku masih ingat. Terjadi begitu saja. Sakit yang tiba-tiba saat kamu memperkenalkan dia. "Hee..kura-kura, sini kenalin, Edric pacar gue" katamu. Aku terperanjat, entah datangnya darimana amarahku yang tiba-tiba itu. "Nama gue Nessa!!, bukan kura-kura" kataku dengan nada tinggi. Kamu terperanjat. Selama ini aku belum pernah membentakmu. Bersambung...
Selasa, 05 Mei 2015
Minggu, 03 Mei 2015
Pertemuan Yang Salah
Pernah tidak kalian berfikir, tidak selalu tapi mungkin pernah. Tentang setiap hal yang terjadi di kehidupan kita. Yang kadang kadang apa yang tidak kita harapkan justru sering menjadi nyata ketimbang apa yang kita harapkan. Pertemuan misalnya, seperti aku juga. Bertemu dia mungkin, ya, di waktu yang salah. Pertemuan singkat yang tak lebih dari beberapa jam saja namun mampu memaksaku untuk terus masuk menerjang segala resiko. Saat aku tak sengaja masuk di hidupmu yang saat itu telah berdua. Kubilang aku mau jadi sahabatmu kan? Hee.. Kenyataan yang terjadi tak begitu. Perasaan ini hidup, tumbuh dan mengharap lebih. Suatu hari entah apa sebabnya kamu dan dia akhirnya memutuskan menyudahi apa yang sudah kalian bangun. Aku senang sekaligus sedih. Berfikir apa ini salahku? Waktu terus berjalan. Tapi kita tetap seperti ini, tetap dalam ikatan persahabatan tak lebih. Akupun tak mau meminta lebih, takut akan merusak lagi semuanya. Meski sebenarnya kamu tahu perasaanku kan? Tapi aku tak pernah tahu seperti apa rasamu. Biar saja lebih baik aku tak tahu untuk sekarang, mungkin juga nanti tak perlu tahu. Jika bagimu ternyata aku hanyalah segumpal awan yang hadirnya hanya boleh sementara. Maka biarlah. Aku pergi. Menunggu hujan yang berikutnya.
Senin, 04-05-2015, Ditulis saat hujan sedang turun #E
Biar Aku Jadi Awan(Part 1)
20 tahun sudah kita melangkah di Bumi. Menjelajah, menelusuri, mencari apa sebenernya tujuan kita berada disini. Tapi, bukan itu yang mau aku bahas. Bukan, bukan tentang pencarian jati diri aku atau kamu. Aku hanya mengenang tentang rencana atau kebetulan yang memang mungkin sudah dipersiapkan dari sejak semula. Ya, tepatnya aku sedang membahas tentang kita. Aku dan kamu. Kita lahir pada hari yang sama, tanggal yang sama, di jam yang hampir sama pula. Hanya aku lebih cepat 1 jam, seingatku. Tidak, kita bukan saudara atau keluarga. Kita 2 manusia yang dipertemukan takdir mungkin. Setelah itu secara ajaib takdir memainkan perannya. Aku dan kamu tumbuh besar bersama. Kamu yang seorang ekstrovert tumbuh menjadi wanita periang dengan segudang teman. Aku, aku kebalikannya. Seorang introvert stadium akhir yang hanya punya kamu sebagai sahabat. Lemah, kuper, tersisihkan dari dunia. Tapi, si kuper ini menyimpan sesuatu. Ya, sesuatu yang tak kusangka begitu berpengaruh untuk kita beberapa tahun ke depan. Bersambung... #E
Jumat, 01 Mei 2015
Setegar Senja
Senja kita berganti. Puluhan, ratusan mungkin telah datang saling silih. Memoriku bergolak. Melintas kembali pada satu masa. Hari itu, waktu itu, ya, senja itu. Kali pertama aku mengajarimu bagaimana menimati 10 detik hitung mundurnya. 10 detik yang memalingkan ku darinya. 10 detik senjaku yang berganti menatap terpanah pipimu yang berubah merah merona. Hari itu, waktu itu. Senja itu. Kita telah jatuh cinta. Waktu bergulir begitu cepat, kurasa. Memaksa kita harus bertaruh segalanya dalam jarak. Aku di sini, kamu di sana. Terpisah ratusan kilometer. Puluhan kota yang merentang, bahkan laut yang terlihat semakin angkuh. Memaksa kita harus tegar menikmati senja kita masing-masing. Senja akan terus bergulir , terbit dan tenggelam. Aku berubah, kamu berubah, senja kita pun berubah. Kita kalah, jarak merenggut segalanya yang kita pertaruhkan. Hilang semua janji, mimpi yang kita gantung di langit yang begitu jingga. Melati kita yang tumbuh di kala senja pun telah mati termakan ilalang. Kudengar kamu tak lagi sendiri menghitung mundur 10 detik senjamu. Sudah ada dia, yang begitu erat menggengam erat jemarimu, hingga kamu pun mungkin enggan berpaling lagi. Aku tak akan bersedih, kekasih. Aku akan tegar. Seperti senja kita, yang jadi bayang di antara siang dan malam. Hanya sesaat namun amat kita rindukan. Aku akan jalan lagi. Menemukan senja ku sendiri. Kali ini, nyawaku akan menjaganya. #E
Kamis, 16 April 2015
Seperti Angin
Karena
terkadang rasa ini seperti diterpa angin
Seketika ia
muncul dan membuatku merasa mimpi ini
begitu nyata
Namun
seketika pula ia menghilang begitu saja tak berbekas,
seakan tak pernah
benar-benar ada.
Sejak hari
itu aku merasa ingin menunggu hingga hati ini
kembali dan membuat kita menjadi
nyata.
Aku-Kamu-Dia
dan Mereka.
Bukankah
Tuhan menciptakan manusia dengan memori
untuk menyimpan kenangan yg pernah
terjadi?
Kuharap itu
tak akan pernah lekang oleh waktu,
sehingga kapanpun aku kembali nanti untuk
ingin mengingatmu,
kamu akan selalu ada di sana.
membuatku
tersenyum sekali lagi,meski hanya jadi masa lalu.
Aku tau juga
kembali ke masa lampau bisa membuatku sakit
masih jelas
juga ingatanku tentang bagaimana rasa sakit itu
menyiksa jiwa.
Lalu mengapa aku bersi keras untuk kembali ?
Taukah kamu?
Aku sadar
semua cerita indah kita berawal dari rasa sakit itu.
Dari
kebencian,putus asa,amarah,dendam dan gelap di hidupku
saat itulah aku bisa
melihatmu.
Membuat rasa
ini semakin jelas
karena
setiap kali aku mememejamkan mata dan saat
aku terbangun, selalu ada kamu
disana.
Mau
menyangkalpun aku tak bisa, mengapa aku
harus menyangkal kalau lebih mudah
untuk mengakuinya?
Aku tau kita
tidak akan selalu baik-baik saja, tapi bisakah
ijinkan aku disini bersamamu?
Aku
mencintaimu, aku tidak tau bagaimana ataupun mengapa.
Itu terjadi
begitu saja.
#A
Biar Saja
Mungkin kau
bertanya-tanya dalam benakmu.
Mungkin kau
juga tak akan bisa mengerti
sekalipun kujelaskan dengan kata-kata
Mengapa aku
memilih untuk tetap disini ?
Mengapa aku
lebih memilih bertahan
dan menikmati waktu disini
bersamamu walau hanya
seperti dalam anganku saja?
Semua itu
memang seperti tak masuk akal
Ketika aku
harus mencintaimu
sembari meneguk pahitnya kenyataan bahwa mungkin,
kita tidak
seharusnya bersama
Bukannya aku
tak ingin, hanya tak bisa
Karena
terkadang dunia mengingatkanku tentangmu
yang seperti malaikat dalam gelap,
bisa kulihat tapi tak akan pernah bisa kugapai.
Biarkan saja
waktu berlalu
dan cinta ini juga tetap ada
seperti musim semi yang tak bisa
terelakkan
Karena aku memang takkan ingin berpaling.
#A
Salah Apa
aku
tidak mengerti apa yang salah.
tentang
aku,kamu,kita.
Mengapa kita harus berakhir seperti ini..?
mungkinkah
kesalahan saat kita bertemu, saat cinta mulai tumbuh dan bersemi dibulan juni
waktu itu, saat hujan membasahi seluruh tubuhku dan kau membiarkan dirimu
membeku melindungiku.
andai
saja waktu itu aku berpaling dan menyudahi semuanya, mungkinkah semuanya akan
tetap baik-baik saja?
ataukah
kesalahan itu ada saat pertama kali tangan ini saling bertautan, pagi itu, saat
hanya ada hening dan sepi jadi saksi bisunya.
jika waktu itu aku menepismu,
mungkinkah cinta tidak berjalan terlalu jauh dan kita akan baik-baik saja?
Apa
kesalahan itu memang terjadi saat kata cinta itu terucapkan..
waktu itu, saat
senja berakhir..
dan aku berjanji untuk menunggumu datang, menunggu cintamu
yang harusnya bukan milikku-tidak pernah?
Mungkin
aku terlambat menyadari semua, maafkan karena membiarkan semua ini terlalu
jauh, maafkan untuk menahanmu dengan cinta ini.
Harusnya
kusadari sejak dulu, harusnya kuhentikan semuanya.
Harusnya aku berlalu, tak perlu menunggu,
atau sekedar berharap tentang hari bahagia saat kita bersama, karena cinta ini
hanya kesemuan belaka.
Kau hanya mimpi dalam kenyataanku.
#A
#A
Langganan:
Postingan (Atom)