Setahun sudah berlalu sejak roda nasib membawamu pergi dariku. Tapi, aku masih tetap saja berada di waktu itu. Tak bergerak, tak pernah beranjak. Tersesat dan terjebak dalam lingkaran lingkaran bulat gelembung kenangan. Belajar untuk tetap baik-baik saja. Menepis segala luka, perih seakan tak pernah ada. Tertawa bersama dunia yang sejatinya menertawakan betapa tebal topengku. Setahun dalam kebohongan begitu banyak juga cinta yang datang dan pergi. Tapi tak ada yang berarti. Tak berasa. Hambar. Terlalu besar mungkin rasaku untukmu hingga mereka tampak hanya seperti bui yang menguap bersama panas. Setahun itu pula nasib tak menginjinkan aku mendengar walau hanya sebaris kata-katamu. Hanya alunan doa saja yang tak pernah putus berharap sedikit kebaikan Tuhan mau mengantarnya ke hatimu. Tuhan, walau hanya sedetik aku ingin bebas menjadi awan. Merasakan ketegarannya yang begitu setia menunggu hujan turun. Lalu tetap setia menjadi awan menunggu hujan yang mengembara di Bumi meninggalkannya sendirian di atas. #E
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
saya juga ingin menjadi awan yang menunggu rintik hujan turun :")
BalasHapusPercayalah. Kita semua ingin :')
BalasHapus